Jember, tagarjatim.id – Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila digelar DPC PDIP Jember di lapangan Sukorambi, Jember pada Minggu (01/06/2025).
Sekretaris DPC PDIP Jember, Widarto yang menjadi inspektur upacara dalam peringatan tersebut menjelaskan, momen ini menjadi sangat penting untuk mengenang sejarah dasar negara Indonesia menjelang kemerdekaannya.
Widarto lantas mengenang masa ketika momen bersejarah pada 1 Juni 1945 dilarang untuk diperingati. Yakni pada masa berkuasanya Presiden Soeharto atau Orde Baru.
Momentum yang mengacu pada pidato Bung Karno di sidang Badan Usaha Penyelidik Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritus Junbi Cosakai itu baru bisa diperingati ketika secara resmi ketika Presiden Jokowi mengeluarkan Keputusan Presiden atau Keppres No 24 tahun 2016.
“Menurut kita sangat fundamental, karena keppres ini menjadi tonggak sejarah. Setelah di Orde Baru, 1 Juni dilarang sebagi diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Lalu muncul Keppres tahun 2016,” tutur Widarto kepada awak media seusai upacara.
Widarto mengingatkan, momentum Hari Kelahiran Pancasila pada 1 Juni 1945, cukup penting dalam menentukan arah perjalanan Indonesia yang saat itu sedang dalam proses menuju kemerdekaan pasca berakhirnya Perang Dunia II dan kalahnya Jepang atas sekutu.
Ia mengenang memontum saat BPUPKI yang berjumlah 69 tokoh bangsa Indonesia menggelar sidang maraton untuk menentukan dasar negara sejak 29 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945.
Sidang yang digelar di Gedung Chuo Sangi In (sekarang bernama Gedung Pancasila) beragendakan tiga tokoh yang berpidato mengusulkan dasar negara Indonesia secara berurutan. Yakni Muh Yamin, Soepomo dan terakhir Ir Sukarno pada 1 Juni 1945.
“Kalau kita menilik pada sejarah di mana BPUPKI waktu sidang mulai tanggal 29 Mei 1945 hingga ke 1 Juni 1945, memang pada 1 Juni itu Bung Karno pertama kalinya menyampaikan dasar negara di depan para tokoh pendiri bangsa yang kemudian dinamakan Pancasila,” ungkap alumnus Ilmu Sejarah Universitas Jember (Unej) ini.
Sebagaimana diketahui, pada masa Orde Baru, pemerintah lebih mengutamakan peringatan Hari Kebangkitan Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.
Peringatan itu mengacu pada gagalnya upaya sekelompok tentara yang dituding terinfiltrasi PKI untuk melakukan pemberontakan kepada Presiden Sukarno, dan disebut-sebut hendak mengganti dasar negara.
Adapun momentum Hari Kelahiran Pancasila pada 1 Juni 1945 cenderung tidak diakui atau bahkan dilarang untuk diperingati.
“Bung Karno tidak menciptakan Pancasila, tetapi menggali nilai-nilai yang sudah hidup pada masyarakat Indonesia sejak dahulu, termasuk melalui seni dan budaya,” ujar Widarto.
Upacara peringatan Hari Kelahiran Pancasila yang digelar DPC PDIP Jember berlangsung khidmat. Setelah upacara, panitia menggelar pagelaran seni budaya asli Indonesia.
Menurut Widarto, ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk konkret dalam merefleksikan filosofi Pancasila yang berasal dari kebudayaan bangsa sendiri.
“Pancasila bukan hanya pandangan hidup bangsa, tetapi juga benteng terhadap derasnya arus budaya asing yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam memperkuat jati diri bangsa,” pungkas Widarto.(*)




















