Kabupaten Malang – Kanker serviks menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi wanita di Indonesia. Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2021, kanker serviks menempati peringkat kedua sebagai jenis kanker yang paling banyak diderita wanita di Indonesia setelah kanker payudara.

Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, kanker serviks menimbulkan dampak signifikan terhadap perempuan dan keluarga mereka di Indonesia dengan lebih dari 103 juta perempuan berusia 15 tahun ke atas berisiko terkena penyakit ini.

Sekitar 36 ribu perempuan terdiagnosis penyakit ini setiap tahun dan sekitar 70 persen di antaranya berada pada stadium lanjut. Jumlah ini memiliki angka mortalitas yang tinggi sebanyak 21.003 kematian atau 19,1% dari seluruh kematian akibat kanker.

Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim, yaitu area sempit di bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). Meski infeksi HPV sering kali dapat hilang dengan sendirinya, pada beberapa kasus, infeksi yang menetap dapat menyebabkan perubahan sel-sel di serviks yang berujung pada kanker.

Pada tahap awal, kanker serviks sering kali tidak menunjukkan gejala yang signifikan, sehingga banyak penderita yang tidak menyadari keberadaan penyakit ini hingga mencapai stadium lanjut. Namun, beberapa tanda yang patut diwaspadai meliputi, perdarahan di luar siklus menstruasi, keputihan yang tidak normal, berbau, atau bercampur darah dan Perdarahan setelah menopause.

Sayangnya, banyak wanita yang baru memeriksakan diri ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut, sehingga tingkat keberhasilan pengobatannya menurun.

Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang dapat dicegah. Langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi:

  1. Vaksin HPV : Vaksin ini efektif mencegah infeksi HPV, terutama jika diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Pemerintah Indonesia telah memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional untuk anak perempuan.
  2. Skrining Rutin: Tes pap smear dan IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) dapat mendeteksi perubahan sel serviks sebelum menjadi kanker. Wanita dianjurkan melakukan skrining secara rutin setiap tiga tahun setelah menikah.
  3. Hidup Sehat: Menghindari rokok, menjaga pola makan seimbang, dan berolahraga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kejadian kanker serviks, termasuk kampanye kesadaran dan penyediaan vaksinasi gratis. Namun, peran masyarakat juga sangat penting dalam meningkatkan pemahaman tentang bahaya kanker serviks.

Kanker serviks adalah penyakit yang mematikan, namun dapat dicegah jika terdeteksi sejak dini. Wanita di Indonesia diharapkan lebih aktif melakukan skrining kesehatan dan mendapatkan vaksinasi HPV. Dengan upaya bersama, kita dapat mengurangi angka kematian akibat kanker serviks dan melindungi generasi wanita Indonesia di masa depan.

 

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H