Kabupaten Sidoarjo, tagarjatim.id – Lonjakan permintaan LPG 3 kg di Sidoarjo membuat sejumlah pangkalan kewalahan dalam melayani pelanggan. Dalam hitungan jam setelah pasokan tiba, tabung gas melon ini langsung ludes terjual. Banyak pelanggan yang akhirnya harus inden karena kehabisan stok di pangkalan.
Lilik Mahmudah, pemilik pangkalan LPG di Desa Ketegan, Kecamatan Taman, mengaku terpaksa memasang tulisan “LPG Habis” di depan tokonya. Hal ini dilakukan untuk menghindari antrean panjang dan pertanyaan berulang dari pelanggan yang datang silih berganti.
Dalam satu kali pengiriman, ia menerima 106 tabung LPG, namun hanya dalam waktu singkat, 88 tabung sudah terjual. Sisanya telah dipesan oleh pelanggan tetap sejak beberapa hari sebelumnya.
“Kami selalu mendapatkan pasokan secara rutin setiap dua hari sekali, tetapi permintaan semakin tinggi. Banyak pelanggan yang mengeluh karena tidak kebagian,” ujar Lilik.
Ia menjelaskan bahwa mayoritas pembeli di pangkalannya adalah pedagang pengecer dan pelaku usaha kecil menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada LPG 3 kg untuk menjalankan usahanya.
Lilik memperoleh LPG dari distributor dengan harga Rp16.500 per tabung. Ia kemudian menjualnya kepada pelanggan toko dengan harga Rp17.500, sementara pembeli eceran seperti pelaku UMKM harus membayar Rp18.000 per tabung. Meskipun harganya masih dalam batas wajar, stok yang terbatas membuat banyak pelanggan harus rela menunggu pasokan berikutnya.
Untuk menghindari aksi borong yang bisa merugikan pelanggan lain, Lilik memberlakukan batasan pembelian maksimal 10 tabung per pelanggan. Ia juga lebih memprioritaskan pelanggan tetap yang berdomisili di sekitar pangkalannya. Sementara itu, bagi pelanggan baru, Lilik mewajibkan mereka menunjukkan kartu identitas sebagai syarat pendataan awal.
Menurut Lilik, kebijakan ini diperlukan agar distribusi LPG lebih merata dan tidak ada pihak yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi. Ia juga berharap ada tambahan kuota pasokan LPG ke wilayahnya agar tidak terjadi kelangkaan yang berlarut-larut.
Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain di Sidoarjo, seperti Kecamatan Waru, Krian, dan Candi. Para pemilik pangkalan di daerah tersebut mengaku permintaan meningkat pesat, terutama dari warung makan dan usaha kuliner kecil yang membutuhkan LPG sebagai bahan bakar utama.
Dengan meningkatnya konsumsi LPG 3 kg, pemilik pangkalan berharap pemerintah dan agen distributor bisa segera menambah pasokan agar tidak terjadi kelangkaan yang berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan gas bersubsidi ini. (*)




















