Blitar, tagarjatim.id – Anna Luthfie, pemilik kebun durian premium di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, tengah gencar mengenalkan konsep integrated farming atau sistem pertanian terpadu. Dengan lahan seluas lebih dari satu hektare, pria yang dijuluki Presiden Republik Durian ini mengembangkan berbagai produk pertanian berbasis durian premium.

Durian premium yang dibudidayakan di kebunnya meliputi varietas Duri Hitam, Super Tembaga, Musang King, dan Bawor. Harga durian ini bisa mencapai Rp600 ribu per kilogram, menjadikannya salah satu buah dengan nilai jual tinggi di Indonesia.

Luthfie mengungkapkan bahwa kebunnya mengadopsi sepuluh konsep pertanian terpadu, dan saat ini telah berhasil mengembangkan tiga di antaranya, yaitu Budidaya durian premium, Sistem bioflok untuk perikanan dan Pengolahan hasil durian premium.

“Saya sedang mengembangkan konsep pertanian terpadu di lahan Republik Durian ini,” ujar Luthfie saat ditemui di gazebo belakang rumah ibunya.

Menurutnya, air kolam bioflok yang mengandung endapan kotoran ikan dapat digunakan sebagai pupuk alami untuk pohon durian. Selain itu, di sela-sela tanaman durian, juga akan ditanam cabai dan sayuran guna meningkatkan produktivitas lahan.

Luthfie mulai menanam pohon durian sejak 4,5 tahun lalu dan kini mulai menikmati hasilnya. Panen perdana yang berlangsung sejak akhir 2024 mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk pejabat negara.

“Alhamdulillah, hasil panen durian premium diakui banyak penikmat durian, termasuk pejabat negara. Mereka menyebut rasanya sebagai yang terbaik yang pernah dicicipi,” kata Luthfie.

Lebih dari sekadar kebun durian, Luthfie bercita-cita menjadikan Republik Durian sebagai destinasi wisata agro dengan fasilitas pendukung seperti homestay, kandang peternakan kambing/domba, dan tambahan kolam bioflok.

Luthfie optimistis bahwa durian premium adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan, terutama bagi generasi muda yang ingin menekuni agribisnis.

“Jika satu pohon durian premium menghasilkan rata-rata 20 buah, dengan harga jual sekitar Rp15 juta per pohon, maka dengan 100 pohon, potensi pendapatan bisa mencapai Rp1,5 miliar per panen,” jelasnya.

Dengan pengelolaan yang tepat, ia yakin sektor pertanian terpadu berbasis durian premium dapat menjadi peluang bisnis menjanjikan, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan perekonomian lokal. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H