Blitar, tagarjatim.id – Penertiban tambang pasir liar dan patroli rutin oleh aparat kepolisian dari Polres Blitar Kota dan Polsek Nglegok di Desa Sumberasri, Kabupaten Blitar, membuahkan hasil.
Pasca penertiban aktivitas pertambangan liar yang digelar akhir Januari lalu, petugas kali ini patroli di sepanjang lokasi penambangan, dan hanya mendapati sejumlah alat berat kondisi rusak dan mangkrak di sekitar lokasi tambang pasir, Kamis (6/2/25).
Patroli bertujuan untuk memastikan benar benar tidak ada aktivitas penambangan dengan alat berat, seperti sebelumnya.
“Tempat ini memang pernah ada pertambangan pasir, kita temukan beberapa alat berat kondisinya rusak dan sudah lama, kita akan berupaya mencari tahu pemiliknya supaya dikeluarkan dari lokasi,” terang Iptu Yuno Sakaito, Kanit tipiter Satreskrim Polres Blitar Kota kepada wartawan.
Kondisi sekitar 10 lebih alat berat, terlihat teronggok di tepi galian pasir. Sementara aktivitas penambangan dengan alat berat, juga tidak didapati sama sekali.
Sejumlah penambang pasir manual menggunakan alat tradisional, terlihat disejumlah titik di sekitar lokasi. Mereka menggunakan skop, pengeruk pasir seperti cangkul, dan menaikkan pasirnya ke truk pengangkut.
Sementara penambang alat berat Wawan, yang ditemui di lokasi mengaku tiarap dan sama sekali tidak berani beraktivitas, sekitar dua pekan ini. Wawan mengamini, jika aktivitas penambangan dilakukan manual dan hanya oleh penambang tradisional.
“Kita tidak berani melakukan aktivitas, tak ada satupun yang berani nambang sejak ditertibkan kemarin lusa,” terang Wawan.
Pantauan di lapangan, kondisi pertambangan di aliran sungai lahar Gunung Kelud ini memang memprihatinkan. Sejumlah lubang bekas galian berdiameter ratusan meter, berada di beberapa titik di lokasi tambang yang sebelumnya beroperasi siang dan malam.
Sejumlah titik bekas longsor juga terlihat di kanan kiri tebing, bahkan di sisi barat tebing berbatasan tegak lurus dengan tanah perkebunan Gambar, dimana terdapat situs komplek Candi Gambar Wetan, yang tengah dalam masa pemugaran. Sementara bangunan sabo dam bladak untuk penghalau banjir lahar hujan, kondisinya juga mengenaskan.
Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan ini, diduga berasal dari dampak penambangan pasir Kali Bladak beberapa tahun terakhir.(*)




















