Sidoarjo, Tagarjatim.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus melakukan berbagai langkah untuk mengatasi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya.

Meningkatnya jumlah kasus DBD di beberapa kecamatan, terutama di musim hujan, menjadi perhatian serius.

Dinkes Sidoarjo berfokus pada pencegahan dengan melibatkan masyarakat dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan untuk memutus rantai penyebaran penyakit ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Sidoarjo, dr Lakhswie Herawati Yuwanita, menyatakan bahwa sepanjang Januari 2025, tercatat 13 kasus DBD yang tersebar di beberapa kecamatan. Kecamatan Candi menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak.

“Tercatat ada lima kasus DBD di Kecamatan Candi, tiga ditangani Puskesmas Sidodadi dan sisanya Puskesmas Candi,” ucap dr Lakhswie.

Sementara itu, sembilan kasus lainnya tersebar di wilayah Kecamatan Krembung dan Wonoayu yang masing-masing tercatat dua kasus. Kemudian, Kecamatan Prambon, Tanggulangin, Gedangan, dan Sedati masing-masing melaporkan satu kasus.

Meskipun ada peningkatan kasus DBD, Dinkes Sidoarjo merasa optimis bahwa penanganan yang cepat dapat menekan angka kesakitan dan mencegah penyebaran lebih lanjut.

Dinkes Sidoarjo terus melakukan sosialisasi kepada warga untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya DBD dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama pada musim hujan.

“Pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama di musim penghujan yang berisiko meningkatkan penyebaran nyamuk yang bisa menyebabkan DBD,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta untuk lebih peduli terhadap potensi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti di sekitar mereka.

Salah satu langkah utama yang disarankan adalah pengurasan tempat penampungan air secara rutin. Tempat-tempat yang tidak digunakan sebaiknya ditutup rapat agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Selain itu, mendaur ulang barang bekas juga menjadi bagian dari upaya untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, Dinkes Sidoarjo juga mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala DBD.

Gejala-gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, nyeri otot, muncul bintik merah di kulit, dan tubuh terasa lemas.

“Laporan sejak dini akan mempermudah penanganan dan mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut,” jelasnya.

Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting dalam mengurangi dampak penyakit DBD. Dinkes Sidoarjo memastikan bahwa masyarakat memahami metode 3M Plus yang mencakup menguras, menutup, dan mendaur ulang untuk mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti. Semakin cepat masyarakat melapor dan mengikuti prosedur pencegahan, semakin efektif upaya untuk mengendalikan DBD.

Untuk memastikan pencegahan yang lebih maksimal, Dinkes Sidoarjo juga akan melakukan fogging atau pengasapan di wilayah-wilayah yang teridentifikasi memiliki kasus DBD.

Fogging dilakukan untuk membunuh nyamuk dewasa dan memutus rantai penyebaran penyakit. Aktivitas ini juga menjadi bagian dari upaya untuk menekan angka kasus DBD di wilayah tersebut.

“Penyuluhan kepada masyarakat terus dilakukan Dinkes Sidoarjo untuk mengantisipasi meningkatnya kasus DBD,” tandasnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H