Kota Malang, Tagarjatim.id – Kota Malang yang terus berkembang pesat menyimpan sebuah bangunan bersejarah yang tak hanya menjadi saksi perjalanan waktu, tetapi juga simbol harmoni antar budaya. Kelenteng Eng An Kiong, yang terletak di Jalan Laksamana Martadinata, Kotalama, Kedungkandang, Kota Malang, akan merayakan usia 200 tahun pada 2025 ini.
Bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan kehidupan masyarakat Tionghoa di Kota Malang.
Kelenteng ini pertama kali didirikan pada 6 Juni 1825 oleh seorang militer Tionghoa bernama Letnan Kwee Sam Hway. Saat itu, kelenteng menjadi tempat berkumpul bagi komunitas Tionghoa yang datang ke Malang untuk bekerja membangun jalur kereta api yang diperintahkan oleh Belanda.
Pengurus Bidang Ibadah dan Pengawas Yayasan Kelenteng Eng An Kiong, Herman Subianto menjelaskan bahwa kelenteng ini sudah menjadi bagian dari komunitas sejak awal keberadaannya.
“Kelenteng ini menjadi tempat berkumpulnya komunitas Tionghoa yang pada masa itu datang ke Malang untuk bekerja membangun jalur kereta api atas permintaan Belanda,” ungkap Herman saat ditemui di kelenteng pada Selasa (28/1/25).
Seiring berjalannya waktu, kelenteng ini berkembang menjadi lebih dari sekedar tempat ibadah.
“Kelenteng ini juga menjadi pusat sosial bagi masyarakat Tionghoa yang merantau, tempat mereka berbagi cerita dan menjaga tradisi,” tambah Herman.
Renovasi kelenteng ini dilakukan secara bertahap, dengan bangunan utama selesai pada tahun 1825, dan renovasi lainnya selesai pada 1934. Meskipun telah diperbaharui, Herman menegaskan bahwa sebagian besar struktur dan ornamen kelenteng tetap dipertahankan.
“Hampir 90 persen dari struktur asli, termasuk tiang-tiangnya, masih utuh dan kokoh sejak pertama kali dibangun,” ujar Herman.
Kelenteng Eng An Kiong dikenal sebagai kelenteng Tridharma, yang mengakomodasi tiga ajaran agama, yaitu Khonghucu, Buddha, dan Taoisme. Filosofi yang dianut di kelenteng ini adalah “San Jiao He Yi” atau ‘tiga ajaran menjadi satu,’ yang menggambarkan persatuan dalam perbedaan.
“Meskipun ketiganya memiliki perbedaan ajaran, mereka bersatu dalam sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Herman.
Selain itu, klenteng ini juga menjadi pusat perayaan budaya, terutama pada perayaan Tahun Baru Imlek.
“Setiap tahun, kami memulai sembahyang pada pukul 05.00 pagi pada tanggal 1 Imlek, dan berlangsung sepanjang hari,” ujar Herman.
Perayaan tersebut diakhiri dengan Cap Go Meh, yang digelar dua minggu setelah Imlek.
“Cap Go Meh adalah perayaan penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek yang selalu dinantikan oleh umat,” tambahnya.
Nama “Eng An Kiong” yang berarti “istana keselamatan dalam keabadian Tuhan” juga mencerminkan nilai spiritual yang mendalam. Kelenteng ini didedikasikan untuk Dewa Bumi, yang merupakan figur penting dalam kepercayaan Tionghoa.
“Dewa Bumi adalah dewa yang melindungi kehidupan di bumi, sangat dihormati dalam tradisi Tionghoa,” kata Herman.
Warna merah dan kuning mendominasi desain klenteng ini, masing-masing melambangkan kehidupan, kebahagiaan, keberanian, dan keagungan.
“Warna merah melambangkan kehidupan dan kebahagiaan, sedangkan kuning menunjukkan keagungan,” jelas Herman.
Selain itu, simbol naga yang menggambarkan kekuatan dan keperkasaan juga terlihat di berbagai bagian bangunan kelenteng.
“Naga adalah simbol kekuatan dalam tradisi Tionghoa, yang sering kali terlihat pada banyak ornamen di kelenteng,” tambahnya.
Klenteng Eng An Kiong terus menjadi pusat kehidupan spiritual dan tradisi bagi umat Tionghoa di Malang. Di tengah modernisasi kota yang semakin berkembang, klenteng ini tetap menjadi tempat yang menyatukan keberagaman dan melestarikan warisan budaya.
“Keberadaan kelenteng ini tidak hanya penting bagi umat Tionghoa, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memahami kedalaman sejarah dan spiritualitas yang ada di Malang,” kata Herman.
Dengan usia yang akan mencapai dua abad, Kelenteng Eng An Kiong tetap berdiri kokoh sebagai simbol harmoni budaya dan pelestarian tradisi, menjadi destinasi penting bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana sejarah dan spiritualitas.
“Kelenteng ini tetap menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang ingin merasakan nuansa kedamaian dan keberagaman yang ada di Malang,” tutup Herman. (*)




















