Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Kenaikan harga cabai yang tinggi di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Malang, menjadi keluhan masyarakat. Untuk itu, pemerintah daerah mulai mencari langkah-langkah untuk menstabilkan harga cabai yang terus merangkak naik.
Pada pekan lalu, harga cabai rawit di Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang sempat menyentuh angka Rp105 ribu per kilogram. Harga ini diperkirakan terus mengalami fluktuasi, dan kemungkinan masih akan terus naik dalam beberapa waktu ke depan.
Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) mulai mencari solusi untuk menanggulangi lonjakan harga cabai yang sering menjadi faktor penyumbang inflasi di daerah ini.
Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Avicenna Medisca Saniputra, menjelaskan bahwa lonjakan harga cabai disebabkan oleh siklus tanam yang terjadi hampir di seluruh wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Malang.
Namun, ia memastikan bahwa kondisi ini akan segera membaik seiring dengan datangnya musim panen raya.
“Sekarang ini banyak petani yang baru mulai menanam, sementara beberapa lainnya terkendala cuaca. Namun, begitu panen raya tiba, saya rasa harga akan lebih stabil,” ujar Avicenna pada Kamis (16/12/2025).
Untuk mengatasi masalah ini dalam jangka panjang, Avicenna mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan kelompok tani di Kabupaten Malang, salah satunya dengan mendorong mereka untuk beralih menggunakan sistem pertanian terkendali, yakni green house.
Menurutnya, penggunaan green house dapat menjadi solusi alternatif untuk mempertahankan produktivitas pertanian meskipun terjadi anomali cuaca, seperti hujan deras yang sering menyebabkan serangan hama dan penyakit pada tanaman.
“Green house bisa membantu mengendalikan hama dan menjaga kondisi tanaman, terutama saat cuaca buruk. Itu sangat penting untuk menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen,” jelasnya.
Selain memberikan solusi teknis, Avicenna juga menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan para petani cabai, salah satunya di wilayah Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, yang memiliki potensi pertanian cabai yang cukup besar.
“Kedepan, kami akan terus mencari solusi bersama, termasuk mengkolaborasikan cabai dengan komoditas-komoditas lain yang juga rentan terhadap fluktuasi harga tinggi,” tutupnya.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan harga cabai di Kabupaten Malang dapat berangsur stabil, sehingga dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat bisa diminimalkan. (*)




















