Kabupaten Malang, Tagarjatim.id– Ummu Zahra Rosyidah, genap berusia 1 tahun Ketika orang tuanya, Taufik Hidayat menggelar upacara Tedak Siten, Jumat (12/1/2025) lalu.
Dengan iringan Sholawat Nabi kepada Nabi Muhammad SAW, Ummu dituntun orang tuanya menapaki tangga yang terbuat dari tanaman tebu dan berjumlah tujuh tingkatan.
Di pinggir tangga yang terbuat dari tebu tersebut dihiasi beragam buah-buahan dan jajan pasar. Dengan telaten, orang tua Ummu mengarahkan kaki anaknya ke setiap pijakan tangga hingga tuntas.
Upacara Tedak Siten merupakan tradisi turun temurun untuk anak yang baru pertama kali menapakkan kaki di tanah untuk belajar berjalan.
Bagi warga Dusun Pitrang, Desa Kalipare, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, upacara Tedak Siten masih dilakukan ketika anak-anak warga dusun tersebut sudah memasuki masa-masa untuk belajar berjalan.
Upacara ini meski sederhana, namun memiliki makna yang mendalam. Diawali dengan pembacaan sholawat nabi, kemudian dilanjutkan dengan prosesi sang anak menapaki kue tetel dan wajik yang berjumlah tujuh. Selanjutnya si Anak mulai menapaki tangga yang dengan cara dituntun dan juga berjumlah tujuh pijakan yang terbuat dari tebu dengan dihias dengan berbagai macam buah.
Upacara ini memang jarang ditemui dan bisa dibilang hampir punah. Upacara tersebut sesekali bisa kita lihat ketika kalangan selebritas keturunan Suku Jawa yang menggelar upacara untuk anaknya.
Dikutip dari situs Kemdikbud, tedhak siten atau tedak siten berasal dari kata ‘tedhak’ yang berarti menapakkan kaki dan kata ‘siti’ yang berarti bumi atau tanah. Jika digabung, tedak siten berarti upacara menapakkan kaki ke tanah untuk pertama kalinya.
Upacara tedak siten dilakukan ketika bayi sudah berusia tujuh lapan dalam kalender Jawa. Satu lapan sama dengan 35 hari, sehingga 7 lapan sama dengan 245 hari atau sekitar 8 bulan dalam kalender Masehi. Usia ini merupakan masa ketika bayi mulai belajar duduk dan berjalan di tanah.
Hal ini dilakukan sebagai simbolisasi betapa pentingnya makna hidup di atas bumi yang mempunyai hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam di sekitarnya.
Menurut KH Chozin Aliwafa salah seorang tokoh Dusun Pitrang, kue dan tangga yang ditapaki berjumlah tujuh, karena untuk meneladani apa yang telah dilakulan oleh Nabi Muhammad SAW. Yakni menaiki langit ke tujuh untuk menghadap Allah SWT, yang dikenal dengan peristiwa Isra Miraj.
“Tujuh tangga ini sebagai salah satu untuk meneladani apa yang penah terjadi pada Rosulluloh,” kata Kiyai Chozin menjelaskan.

Lebih lanjut Kiyai Chozin menambahkan, naik turun tangga yang terbuat dari tebu tersebut dilakukan sebanyak lima kali, hal ini didasari oleh apa yang didapat Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mijra yaitu perintah sholat sebanyak lima waktu.
“Jadi naik turunnya itu lima kali, sebagai gambaran petintah sholat yang dikerjakan lima kali dalam sehari, diharapkan anak ini nantinya rajin dalam ibadah sholat sebagai bentuk kewajiban,” kata Kiyai Chozin.
Dalam prosesnya, selain pembacaan sholawat nabi, si anak juga diminta untuk memilih sesuatu yang ditempatkan dalam anyaman tampah, yang berisi antara lain, Kitab Suci Alquran, alat tulis, jagung, uang, baju.
Dengan harapan, jika yang dipiliha anak tersebut dalah kitab suci al-Quran, kelak si anak diharapkan bakal menjadi orang pandai dalam ilmu agama, dan jika memilih uang diharap saat dewasa nanti ia akan orang yang dermawan, dan apapun yang dipilih oleh anak tersebut diyakini sebagai gambaran kehidupannya di masa depan.
“Pilhan yang disajikan tersebut, merupakan suatu perwujudan dari orang tuanya, tadi kita lihat anaknya memilih buku tulis, itu berarti doa dan harapan orang tuanya kelak dia menjadi orang yang pandai dan cerdas,” pungkas Kiyai Chozin.(*)




















