Tagarjatim.id – Nilai tukar rupiah masih tertekan di tengah penguatan indeks dolar AS yang stabil di kisaran 109,18. Tekanan ini diperburuk oleh pelemahan di pasar surat utang domestik dan kinerja indeks saham yang terjebak zona merah selama dua hari berturut-turut.
Kemarin, rupiah di pasar spot ditutup melemah tipis 0,03% di level Rp16.200/US$, sementara rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) tenor satu bulan mencatat penguatan 0,14% di Rp16.244/US$. Namun, pagi ini, rupiah NDF kembali melemah ke Rp16.248/US$, mengindikasikan potensi tekanan lanjutan.
Imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun naik ke 7,20%, dengan tenor lainnya seperti 2 tahun, 5 tahun, dan 20 tahun berada di kisaran 7,05%–7,23%. Tekanan pada pasar obligasi ini mendorong arus keluar modal asing yang terus membebani nilai tukar rupiah.
Level Kunci Teknis Rupiah
Secara teknikal, rupiah menghadapi level support di Rp16.200/US$ dan Rp16.250/US$. Jika kedua level ini ditembus, rupiah berpotensi melemah lebih dalam ke Rp16.300/US$. Sebaliknya, resistance berada di Rp16.150/US$, yang jika terlampaui dapat membuka peluang penguatan ke Rp16.100/US$.
Faktor Global dan Data Ekonomi
Dari sisi global, data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang akan dirilis menjadi fokus utama. Konsensus pasar memprediksi penambahan lapangan kerja Desember hanya mencapai 165.000, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 227.000. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,2%, sementara upah per jam diprediksi tumbuh 0,3% secara bulanan.
Nada hawkish dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) semakin memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga yang ketat. Gubernur The Fed Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa penyesuaian suku bunga yang lebih lambat diperlukan karena ketidakpastian ekonomi yang signifikan.
Di Asia, mayoritas mata uang pagi ini bergerak melemah dalam kisaran terbatas, dipimpin ringgit, dolar Singapura, yen, dan yuan offshore. Namun, baht Thailand justru menguat 0,16% terhadap dolar AS, bersama won Korea Selatan dan dolar Hong Kong yang sedikit menguat. Bursa Asia secara umum melemah, dengan Nikkei turun 0,54% dan Kospi melemah 0,19%.
Cadangan Devisa dan Dukungan Kebijakan
Menurut Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari fenomena global penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang, baik di negara maju maupun emerging market. Meski demikian, Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Edi Susianto, menyatakan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbuka, didukung oleh cadangan devisa yang kuat, fundamental ekonomi yang solid, serta imbal hasil aset rupiah yang menarik.
Pemerintah juga memperkuat posisi cadangan devisa melalui penerbitan surat utang valas senilai US$2 miliar dan EUR1,4 miliar. Selain itu, rencana mewajibkan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) selama minimal satu tahun diharapkan dapat menambah sokongan terhadap rupiah. Aturan ini dijadwalkan segera dirilis.
Menurut Alan Lau, FX Strategist di Maybank Singapura, kebijakan tersebut dapat memperkuat mekanisme pertahanan rupiah, terutama di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Meskipun investor asing masih mencatat arus keluar signifikan di pasar surat utang dan saham, optimisme akan penguatan rupiah tetap ada jika sentimen global dan domestik lebih kondusif. iah NDF kembali melemah ke Rp16.248/US$, mengindikasikan potensi tekanan lanjutan.
Imbal hasil (yield) surat utang negara tenor 10 tahun naik ke 7,20%, dengan tenor lainnya seperti 2 tahun, 5 tahun, dan 20 tahun berada di kisaran 7,05%–7,23%. Tekanan pada pasar obligasi ini mendorong arus keluar modal asing yang terus membebani nilai tukar rupiah.
Level Kunci Teknis Rupiah
Secara teknikal, rupiah menghadapi level support di Rp16.200/US$ dan Rp16.250/US$. Jika kedua level ini ditembus, rupiah berpotensi melemah lebih dalam ke Rp16.300/US$. Sebaliknya, resistance berada di Rp16.150/US$, yang jika terlampaui dapat membuka peluang penguatan ke Rp16.100/US$.
Faktor Global dan Data Ekonomi
Dari sisi global, data Non-Farm Payroll (NFP) AS yang akan dirilis menjadi fokus utama. Konsensus pasar memprediksi penambahan lapangan kerja Desember hanya mencapai 165.000, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 227.000. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,2%, sementara upah per jam diprediksi tumbuh 0,3% secara bulanan.
Nada hawkish dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) semakin memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga yang ketat. Gubernur The Fed Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa penyesuaian suku bunga yang lebih lambat diperlukan karena ketidakpastian ekonomi yang signifikan.
Di Asia, mayoritas mata uang pagi ini bergerak melemah dalam kisaran terbatas, dipimpin ringgit, dolar Singapura, yen, dan yuan offshore. Namun, baht Thailand justru menguat 0,16% terhadap dolar AS, bersama won Korea Selatan dan dolar Hong Kong yang sedikit menguat. Bursa Asia secara umum melemah, dengan Nikkei turun 0,54% dan Kospi melemah 0,19%.
Cadangan Devisa dan Dukungan Kebijakan
Menurut Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari fenomena global penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang, baik di negara maju maupun emerging market. Meski demikian, Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Edi Susianto, menyatakan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbuka, didukung oleh cadangan devisa yang kuat, fundamental ekonomi yang solid, serta imbal hasil aset rupiah yang menarik.
Pemerintah juga memperkuat posisi cadangan devisa melalui penerbitan surat utang valas senilai US$2 miliar dan EUR1,4 miliar. Selain itu, rencana mewajibkan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) selama minimal satu tahun diharapkan dapat menambah sokongan terhadap rupiah. Aturan ini dijadwalkan segera dirilis.
Menurut Alan Lau, FX Strategist di Maybank Singapura, kebijakan tersebut dapat memperkuat mekanisme pertahanan rupiah, terutama di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Meskipun investor asing masih mencatat arus keluar signifikan di pasar surat utang dan saham, optimisme akan penguatan rupiah tetap ada jika sentimen global dan domestik lebih kondusif.(*)




















