Kota Batu, Tagarjatim.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Jawa Timur, mencatat ada 122 kejadian bencana yang terjadi di Kota Batu sepanjang tahun 2024. Dari jumlah itu, peristiwa tanah longsor merupakan yang paling banyak terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Agung Sedayu menyatakan bahwa terdapat 56 bencana tanah longsor yang melanda Kota Batu selama tahun 2024.
“Jika di presentase, bencana tanah longsor ini menduduki posisi tertinggi yakni 46 persen,” katanya.
Selain tanah longsor, angin kencang atau cuaca ekstrem juga mendominasi. Terdapat sebanyak 28 kejadian atau 23 persen.
“Lalu bencana alam banjir sebanyak 22 kejadian atau 18 persen, kebakaran bangunan sebanyak 10 peristiwa atau 8 persen dan kebakaran hutan lahan sebanyak 6 kejadian atau 5 persen,” beberapa Agung Sedayu, Selasa (7/1/25).
Lebih lanjut, Agung juga memaparkan, dari dampak kejadian bencana tersebut yang dilanjut hingga penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana ada sebanyak 26 titik lokasi. Dengan progres penanganan 100 persen di 25 titik dan progress 50 persen di satu titik lokasi.
“Untuk progres penanganan 100 persen diantaranya ada 14 fasilitas umum, sembilan rumah warga, dua fasilitas umum/rumah warga dan satu tempat usaha. Sementara untuk progres penanganan 50 persen dilaksanakan di satu fasilitas umum,” paparnya.
Agung mengungkapkan, dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, BPBD Kota Batu rutin melakukan pendampingan. Ini dilakukan guna memastikan pembangunan yang dilakukan memenuhi prinsip ‘Build Back Better’.
Menurut Agung dari sejumlah kejadian tersebut, wilayah yang berpotensi bencana yakni Kecamatan Bumiaji. Ia menyebut Bumiaji menjadi wilayah paling rawan mengalami bencana alam karena memiliki banyak lereng dan tebing.
“Total kejadian bencana di Bumiaji 58 kejadian. Kemudian disusul Kecamatan Batu sebanyak 44 kejadian dan Kecamatan Junrejo sebanyak 20 kejadian. Paling mendominasi tanah longsor,” ungkap Agung.
Dia menyampaikan untuk memeriksa dan menjadi parameter penentu wilayah tersebut rawan terjadi longsor atau tidak, yaitu berdasarkan 6 faktor. Diantaranya, dilihat melalui tingkat topografi, kemudian kerapatan vegetasi dari tanaman.
“Ketiga curah hujan, keempat catatan histori bencana yang pernah terjadi sebelumnya, Kelima jenis batu-batuan, keenam jenis tanah,” sambungnya.
Sebagai langkah antisipasi kebencanaan, kata Agung, BPBD Kota Batu telah melakukan sejumlah kegiatan pada fase pra bencana. Diantaranya pendampingan survey mikroseismik, pendampingan destana Kelurahan Sisir, koordinasi dan sinkronasi data renkon Gunung Api Arjuno – Welirang dan menyelenggarakan Disaster Forum Academy (FIFA).
Dalam kegiatan fase pra bencana juga terdapat sejumlah kegiatan yang dilakukan diantaranya, latihan pencegahan dan kesiapsiagaan, satuan pendidikan aman bencana, inovasi unggana, montana dan botuna, apel kesiapsiagaan dan dimulasi bencana serta kajian risiko bencana. (*)




















