Penulis : Dixs Fibriant

Blitar, tagarjatim.com – Ribuan jamaah memenuhi Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba’ul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Massa mengikuti doa bersama untuk negeri.

Acara ini diinisiasi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran Fauzan, serta Ketua paguyuban keluarga besar Kyai Ageng Basyariah, KH Raden Mas Hadi Prawironegoro.

Ketua paguyuban keluarga besar Kyai Ageng Basyariah, KH Raden Mas Hadi Prawironegoro mengatakan kegiatan ini sengaja digelar untuk mempererat tali silaturahmi antar umat. Mengingat bahwa saat ini Memasuki musim politik yang rentan akan gesekan antarsesama. Dalam momen Pemilu 2024 diharapkan bisa mendapatkan pemimpin yang ikhlas.

“Kita ini keluarga, tidak hanya untuk keluarga besar Basyariah saja, namun sebagai keluarga seluruh masyarakat se-indonesia. Kerukunan itu harus dijaga dan dirawat bersama-sama,” kata Gus Hadi, sapaan akrabnya Minggu (8/1/2024).

Lebih lanjut, pria yang sekaligus pengasuh Ponpes Al-Hidayah Mojokerto itu mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama. Hal itu bertujuan untuk mengharap rida Allah SWT agar pemimpin negara yang terpilih nanti memberikan hasil terbaik.

Hadir juga dalam acara tersebut kiai kondang, KH. Agus Muhammad Iqdam Kholid atau yang biasa dikenal Gus Iqdam, yang juga merupakan salah satu keturunan dari Kiai Ageng Basyariyah.

Dalam Mauizatul Hasanahnya, Gus Iqdam menyampaikan bahwa karakteristik pemimpin yang ideal itu harus mampu rendah hati dan lapang dada. Menurutnya, itu menjadi hal dasar yang harus ditekankan. Maksud pemimpin di sini tidak serta merta untuk presiden saja, namun juga untuk tokoh agama, kyai, gus, serta kepala rumah tangga.

“Para hadirin, jadi pemimpin itu tidak mudah. Kiai, gus, ustaz, dan suami itu juga pemimpin. Harus banyak ikhlas dan berjuang,” katanya.

Ia juga berpesan pada masyarakat untuk saling menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Hal itu bisa dilakukan dengan sederhana, misalnya dengan senantiasa menjauhkan diri dari perasaan iri dan dengki.

“Wes, jangan ada rasa iri dan dengki, gampangnya jangan pernah ada rasa itu kepada tetangga sendiri. Itu kalau dijalankan dengan maksimal, persatuan bangsa dan negara akan menjadi semakin kuat,” pungkasnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H