Kota Malang – Polres Malang bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menyelenggarakan bedah buku berjudul “Move in Silence: Untold Story of Kanjuruhan Disaster” pada Jumat (20/12). Acara ini berlangsung di Auditorium Nuswantara FISIP UB, Kota Malang, Jawa Timur.
Buku yang mengulas Tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022 tersebut ditulis oleh Kapolres Malang, AKBP Putu Kholis Aryana, bersama tim penyusun selama periode Januari hingga Juli 2024. Buku setebal 564 halaman ini berisi 41 tulisan dan 390 foto yang mendokumentasikan peristiwa dan refleksi dari tragedi tersebut.
Acara bedah buku dihadiri oleh berbagai tokoh, termasuk Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana, serta sejumlah pejabat utama Polres Malang.
Diskusi dengan Berbagai Perspektif
Bedah buku ini menghadirkan pembedah dari berbagai disiplin ilmu. Para panelis tersebut antara lain Faizin Sulistio, dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum UB, Prija Djatmika, dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum UB, Ahmad Imron Rozuli, dosen Sosiologi FISIP UB, Mayuko Galuh Mahardika, mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosiologi FISIP UB dan Muhammad Rafi Haykal Akbar, Presiden BEM FISIP UB.
Dalam sambutannya, AKBP Putu Kholis Aryana menyampaikan bahwa buku ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait peran polisi pasca-Tragedi Kanjuruhan.
“Ini adalah pelajaran penting yang tidak boleh dilupakan oleh Polres Malang. Buku ini menjadi pengingat agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan,” ujar Putu Kholis.
Putu Kholis menegaskan bahwa pihak kepolisian terus menjalin komunikasi dengan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan serta mengakomodasi kebutuhan mereka.
“Meski di luar tugas utama kami, kami tetap merasa bertanggung jawab untuk merespons dan memenuhi permintaan keluarga korban. Ini adalah bagian dari tanggung jawab moral kami,” jelasnya.
Buku Move in Silence direncanakan akan didistribusikan secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk refleksi dan pembelajaran bersama. Namun, sebelum itu, buku akan diserahkan terlebih dahulu kepada pejabat utama Polda Jawa Timur sebagai laporan pertanggungjawaban selama masa tugas Kapolres Malang.
“Saya ingin buku ini menjadi kontribusi nyata, bukan untuk keuntungan pribadi. Karenanya, saya memutuskan untuk membagikannya secara gratis kepada masyarakat,” tambah Putu Kholis.
Acara ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk terus menjaga ingatan kolektif terhadap Tragedi Kanjuruhan, sekaligus mendorong upaya preventif agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang. (#)




















