Kabupaten Malang – Pasca Pilkada Serentak 2024, banyak calon pemimpin baru mulai Gubernur, Bupati, Wali Kota, terpilih setelah mengikuti kontestasi perebutan kekuasaan. Bagi siapapun yang terpilih menjadi penguasa atau menjadi pemimpin negri atau daerah bukanlah suatu tugas yang mudah. Ada tanggung jawab yang besar di balik kepemimpinan yang diemban seseorang, apalagi jangkauan kepemimpinan tersebut meliputi satu negara atau daerah dengan populasi yang besar, tentu bukan main-main.
Nabi Muhammad SAW pun mensyaratkan seorang pemimpin harus berintegritas dan mempunyai keahlian di segala bidang. Jika sebuah negara atau daerah dipimpin seseorang yang bukan ahlinya, maka kiamatlah negri tersebut.
Menurut riwayat Imam Baihaqi, di Kitab Syu’ab al-Iman sangat agung derajat seorang pemimpin dalam Islam. Pemimpin itu laksana naungan Allah yang berada di bumi, karena pemimpin tempat umat mengeluh dan mengadu.
Terkait kepemimpinan, Islam sendiri sangat peduli terhadap etika dan moral yang harus dimiliki seorang pemimpin. Tentunya, pemimpin ideal dalam sejarah Islam adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan untuk menakar kepemimpinan yang ideal, tiga dari empat sifat wajib bagi para nabi dan rasul berupa siddiq (jujur), amanah (dipercaya), fathanah (cerdas) dapat menjadi landasan kriteria pemimpin yang baik.
Apabila melihat kepemimpinan dari sisi hadits, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menegaskan salah satu sahabatnya untuk tidak meminta jabatan, ucapan ini terekam dalam hadis riwayat al-Bukhari:
“Dari Abdurrahman bin Samurah, beliau mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan dengan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong, dan jika kamu diberinya karena meminta, maka kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu bersumpah, lantas kamu lihat ada suatu yang lebih baik, maka bayarlah kafarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik”. (Hadis riwayat Imam al-Bukhari).
Dari hadits di atas beserta penjelasannya, ada kriteria yang dapat kita tetapkan untuk melihat pemimpin-pemimpin di sekitar kita yang sedang mencalonkan diri. Sifat tamak dan rakus merupakan sifat buruk yang seharusnya tidak ada di dalam jiwa seorang pemimpin.
Kerakusan dan ketamakan akan melahirkan kecurangan ketika menjalankan kepemimpinan, sedangkan pemimpin yang curang disinggung oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Allah masukkan ke dalam surga. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari:
Artinya: “Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)
Selanjutnya adalah sifat amanah dan bertanggung jawab merupakan sifat mendasar yang harus ada pada seorang pemimpin. Sifat amanah dan bertanggung jawab ini akan berpengaruh pada putusan yang diambilnya, pada pandangan dirinya ketika menangani kasus dan problematika yang menjadi tanggung jawabnya serta memperhatikan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.
Dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah setiap dari kalian adalah seorang pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin orang banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluargan suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, budak juga seorang pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”.
Kemudian, seorang pemimpin haruslah orang yang ahli, tentunya keahliannya dalam menata kewarganegaraan yang akan membawa negara dan rakyat pada kestabilan di berbagai bidang, baik kemananan, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Memberikan kepercayaan kepada yang bukan ahlinya merupakan suatu tanda kehancuran, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari).
Kemudian kriteria pemimpin selanjutnya yaitu yang dicintai dan mencintai rakyatnya, sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Hadis riwayat Imam Muslim).
Pendapat ulama ahli sunah wal jamaah mengutip hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, mengatakan kelak di hari kiamat pemimpin adil akan mendapatkan naungan, di mana tidak ada perlindungan selain dari Allah. Balasan atas jasanya ialah surga.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil”.
Pada sisi lain, kita sebagai rakyat wajib taat pada pemimpin yang terpilih. Tidak boleh memberontak pada yang diangkat secara sah dan konstitusional.
Kewajiban taat pada pemimpin tak bisa ditawar, kata Ibnu Rusyd dalam kitab al-Bayan wa at-Tahsil wa Syarh wa Taujih wa Ta’lil li Masaili al-Mustakhrijah, sekalipun banyak yang tak menyukainya.
Menurut Islam wajib atas seseorang taat kepada pemimpin, pada apa yang ia sukai dan ia benci, meskipun pemimpin itu berlaku tidak adil. Tapi dengan catatan, pemimpin itu tak menyuruh maksiat pada Allah.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Jilid 4 (h.99) berpendapat pemimpin baginya adalah penjamin tegaknya agama.
Tak sepantasnya pemimpin itu dihina. Tidak pula sepatutnya direndahkan. Seorang muslim yang baik, diharuskan taat pada pemimpin, sekalipun dia zalim.
Dan ketahuilah bahwa pemimpin adalah pilar agama, maka tidak sepatutnya dia dihina, meskipun dia adalah seorang yang zalim dan fasik.
Tugas seorang pemimpin sangat berat, dia diamanahi tanggung jawab yang sangat besar dan kompleks, terkadang membawa kepada kesepian. Karena kekuasaan mengurung orang dalam kesendirian, dan mengutuknya dalam kesepian.
Seorang pemimpin diharapkan bisa mengayomi, menegakkan keadilan, dan mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi umat. Untuk itu, tidak semua bisa menjadi pemimpin.
Dilansir dari NU Online, Imam Mawardi, pencetus konsep politik Islam klasik, menulis dalam al-Ahkāmus Sulthāniyyah wal Wilālāyatud Diniyah (h.19), bahwa syarat utama seorang diangkat menjadi pemimpin. Pertama, memiliki sifat yang adil. Pemimpin adil merupakan salah satu faktor krusial dalam pembangunan dan keberhasilan sebuah negara atau daerah.
Pemimpin harus memiliki potensi untuk menciptakan masyarakat yang stabil, sejahtera, dan harmonis. Di bawah kepemimpinan yang adil, keadilan hukum, keamanan, dan kesejahteraan rakyat dapat tercapai dengan lebih baik, memiliki integritas dalam tindak-tanduk perilakunya serta menjauhkan diri dari perbuatan dan keadaan yang menyebabkan dosa dan kemaksiatan.
Untuk itu, seorang yang zalim atau pengkhianat tidak diperkenankan menduduki jabatan sebagai pemimpin.
Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim memberikan penjelasan terkait kriteria pemimpin yang pantas menakhodai orang banyak. Ia memaparkan bahwa seorang pemimpin harus berdiri di atas kepentingan rakyat banyak.
Bahkan seorang pemimpin mampu melihat satu per satu kepentingan rakyatnya.
Dia juga menguraikan tentang sifat ksatria seorang pemimpin. Pemimpin tidak hanya harus membela rakyatnya di dunia, tetapi juga di akhirat.
“Seorang pemimpin bukanlah orang yang membela dirinya, bukan harga dirinya, bukan keluarganya juga bukan golongannya, tapi harus membela rakyatnya, sekalipun dihadapan Tuhannya,” kata Lukman.




















