Kabupaten Malang – Kehidupan ini adalah perjalanan yang penuh liku-liku, ujian, dan anugerah. Setiap individu dihadapkan pada pilihan penting, apakah kita memilih untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah, ataukah kita terjerumus dalam kekufuran yang berujung pada pencabutan nikmat tersebut?
Allah SWT telah menjanjikan dalam Al-Qur’an bahwa “Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambahkan (nikmat) untuk kalian” (Q.S. Ibrahim 14:7).
Bersyukur bukan hanya ungkapan lisan, melainkan suatu sikap hati yang tercermin dalam tindakan sehari-hari. Saat kita bersyukur, kita mengakui keberlimpahan nikmat yang telah diberikan, dan dengan rendah hati menerima bahwa semuanya berasal dari Allah.
Dengan hati yang syukur, kita menjadi lebih peka terhadap nikmat kecil yang sering terlupakan. Kebersyukuran adalah kunci untuk membuka pintu rezeki yang lebih besar, bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam hal kebahagiaan, kedamaian, dan keberkahan hidup.
Di sisi lain, kekufuran nikmat adalah perilaku yang membahayakan. Allah SWT juga memperingatkan, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku tambahkan (nikmat) untuk kalian; tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (Q.S. Ibrahim [14]:7). Ketika kita melupakan asal-usul nikmat yang kita nikmati, kita berpotensi kehilangannya.
Kufur nikmat bukan hanya tentang ungkapan ketidakpuasan, tetapi lebih pada sikap hati yang mengabaikan kontribusi Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Ketika seseorang menganggap bahwa segala sesuatunya adalah hasil usahanya sendiri, tanpa mengakui peran Allah dalam memberikan nikmat, hal ini dapat mengundang azab-Nya.
Orang yang beriman sekalipun dapat terjerumus ke dalam sikap kufur nikmat. Orang yang beriman sekalipun dapat mengingkari pemberian Allah SWT dengan meremehkan berbagai anugerah yang ia terima.
Meskipun tidak tergolong ke dalam kufur secara aqidah, kufur nikmat tidak dapat dianggap kecil. Kufur nikmat merupakan tindakan tercela yang dapat mendatangkan azab yang hebat sebagaimana keterangan pada Surat Ibrahim ayat 7:
Artinya, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan maklumat, ‘Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat,’” (Surat Ibrahim ayat 7).
Kufur nikmat merupakan perbuatan tercela dan nista. Secara moral, pengingkaran atas kebaikan orang lain merupakan perbuatan buruk secara etis. Kufur nikmat hanya dilakukan oleh orang yang memiliki standar moral yang rendah.
Kufur nikmat adalah hina, maksudnya tidak mensyukuri nikmat merupakan tanda kerendahan diri seseorang.
Bersyukur bukanlah tugas yang mudah terutama dalam situasi sulit. Namun, kebenaran yang perlu diingat adalah bahwa kehidupan ini penuh ujian dan cobaan.
Menerima nikmat dengan bersyukur dan tetap bersyukur dalam kesulitan adalah bentuk ketaqwaan yang tinggi. Ketakwaan dan bersyukur adalah kunci untuk tetap teguh dalam menghadapi cobaan hidup.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah kepercayaan orang yang beriman kepada-Ku dan bersyukurlah.'” (Q.S. Hud 11:51).
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)
Pilihan antara bersyukur dan kufur nikmat bukanlah sekadar perbandingan, melainkan merupakan hakikat kehidupan. Dalam setiap langkah, kita dihadapkan pada pilihan untuk melihat dan mengakui nikmat yang diberikan Allah atau merendahkan diri dengan merasa bahwa segala sesuatunya adalah hasil usaha kita sendiri.
Dengan bersyukur, kita membuka pintu keberlimpahan dan keberkahan. Dengan kufur nikmat, kita membuka pintu kepedihan dan kehilangan. Oleh karena itu, mari kita tanamkan sikap hati yang syukur, tidak hanya saat senang dan sejahtera, tetapi juga saat sedang diuji. Dengan begitu, kita dapat merasakan nikmat Allah yang terus mengalir, sekaligus menghindari risiko pencabutan anugerah-Nya karena sikap hati yang kufur.
Jangan mengomel atas persediaan yang serba kurang, jangan mengeluh kalau belum apa-apa yang dicita-citakan. Syukuri apa yang ada, maka pastilah akan ditambah oleh Allah. Tetapi kalau hanya mengeluh, ini kurang, itu belum beres, yang itu lagi belum tercapai, seakan-akan pertolongan Tuhan itu tidak juga segera datang, maka itu namanya kufur, artinya melupakan nikmat, tidak mengenal terima kasih. Orang yang demikian akan mendapat siksa yang pedih dan mengerikan. Di antaranya ialah jiwanya merasa merumuk ditimpa penyakit rasa selalu tidak puas.
Oleh karena itu setiap manusia harus mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWTadalah sebuah kebijaksanaan yang lahir dari kesadaran dan kerendahan hati. Mensyukuri nikmat Allah sejatinya adalah kebutuhan makhluk karena kebaikan itu tidak berpulang kepada Allah tetapi kepada dirinya sendiri sebagai bentuk adab kepada Sang Maha Pemberi.
Artinya, “Sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu ‘Bersyukurlah kepada Allah. Siapa saja yang bersyukur, maka sungguh ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Tetapi siapa saja yang tidak bersyukur (kufur nikmat), maka sungguh Allah Maha Kaya, Maha Terpuji”. (Surat Luqman ayat 12).
Fakhruddin Al Razi dalam Mafatihul Ghaib mengatakan, “Ketahuilah, maksud ayat ini adalah penjelasan bahwa barangsiapa menyibukkan dengan bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah, maka Allah akan menambahkannya dengan berbagai kenikmatan dari-Nya.” Kenikmatan yang akan ditambahkan kepada orang yang bersyukur, juga merupakan kesimpulan para mufassir lainnya, seperti Al Thabari, Al Nasafi, Al Bhaidawi, Al Saukani, Al Sa’d dan lain-lain.
Razi juga menerangkan bahwa kandungan utama Surat Ibrahim ayat 7 setidaknya ada tiga, yaitu: Pertama, pada hakikatnya syukur merupakan ungkapan rasa pengakuan diri atas nikmat dari yang Maha Pemberi. Kedua, janji Allah untuk menambah kenikmatan bagi yang merasa bersyukur. Nikmat tersebut bisa berbentuk jasmani maupun ruhani. Ketiga, sikap kufur akan nikmat bisa menyebabkan rasa tersiksa. Rasa tersiksa ini muncul karena ia tidak tahu (tertutup) akan nikmat Allah sehingga ia juga tidak benar-benar mengetahui Allah.
Padahal sudah jelas Allah berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7 : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”.
Di QS Ibrahim ayat 7 mengandung sejumlah nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia. Pertama, mendidik kita menjadi hamba yang senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang diberikan Allah. Kedua, mengajarkan umat manusia agar senantiasa menjauhi sikap kufur nikmat yang mendatangkan azab Allah.
Ketiga, mendidik kita agar menjadi pribadi yang takwa dan memiliki akhlak terpuji. Keempat, memotivasi kita agar berlomba-lomba dalam kebaikan serta mencari ridha dan rahmat Allah serta ampunan-Nya.
Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa syukur tersusun atas tiga perkara. Pertama, ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberiannya, serta meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT dan yang lain hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat, sehingga akan selalu memuji Allah SWT dan tidak akan muncul keinginan memuji yang lain. Sedangkan gerak lidah dalam memuji-Nya hanya sebagai tanda keyakinan.
Kedua, hal (kondisi spiritual), yaitu pengetahuan dan keyakinan tadi melahirkan jiwa yang tenteram, membuatnya senantiasa senang dan mencintai yang memberi nikmat dalam bentuk ketundukan dan kepatuhan. Mensyukuri nikmat bukan hanya dengan menyukai nikmat tersebut melainkan juga dengan mencintai yang memberi nikmat yaitu Allah SWT.
Ketiga, amal perbuatan. Ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan yang menampakkan rasa syukur dengan pujian kepada Allah SWT dan anggota badan yang menggunakan nikmat-nikmat Allah SWT dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.




















