Blitar – Seorang perajin alat musik kendang djembe atau dikenal kendang jimbe khas Blitar, Jawa Timur, akhirnya bernafas lega setelah kerja kerasnya menekuni kerajinan kendang jimbe membuahkan hasil yang membanggakan. Kerajinan Kendang Jimbe yang hampir punah dan banyak ditinggalkan para perajinnya tersebut akhirnya mendunia, tembus pasar ekspor, Tiongkok.

Hanya beberapa warga di Bumi Proklamator tersebut yang sampai saat ini masih bertahan membuat kerajinan kendang jimbe.

Heru, misalnya, perajin kendang jimbe asal Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, mengaku bernafas lega, setelah buah karyanya tembus pasar ekspor, dan diminati warga Tiongkok.

Dia menceritakan membuat kendang jimbe sudah digelutinya sejak 12 tahun, berawal dari keinginan orang tuanya agar selepas sekolah, dirinya bekerja membantu perekonomian keluarga. Ia mengaku sulitnya mencari lapangan pekerjaan, akhirnya dia berinisiatif untuk mengembangkan skill membuat kendang jimbe yang dimilikinya.

Dia optimis, usaha membuat kerajinan jimbe yang digeluti dan ditekuninya tersebut cukup menjanjikan dan bisa membantu perekonomian keluarganya.

“Dulu setelah sekolah orangtua maunya saya kerja. Jadi, saya awalnya ikut teman membuat kendang jimbe, kemudian berinisiatif membuka usaha sendiri,” kata Heru, di Blitar, Rabu (6/11/2024).

Keyakinan Heru pun terbukti, hasil kerja kerasnya selama belasan tahun tersebut membuahkan hasil. Bahkan, jimbe mahakaryanya banyak menerima orderan dari berbagai daerah dan luar negeri, seperti Tiongkok.

Namun, Heru hanya sanggup membuat kendang jimbe setengah jadi kemudian dikirim ke pengepul. Di tempat itu diproses lagi hingga menjadi kendang jimbe dan siap di ekspor.

Menurut Heru, untuk membuat kendang jimbe, Heru menyebut yang paling utama adalah bahan baku kayu jenis mahoni. Kayu kemudian dipotong potong dengan ukuran kendang jimbe sekitar satu siku lengan orang dewasa.

Kayu itu kemudian dimasukkan ke mesin penghalus dibuang bagian kulitnya kemudian dilubangin bagian tengahnya. Kendang yang masih setengah jadi kemudian dikirim ke pengepul.

Heru mengungkapkan selama ini stok kayu masih mudah untuk dicari. Namun, terkadang juga kesulitan bahan baku, sehingga harus mencari bahan hingga ke luar daerah seperti Trenggalek, Ponorogo. Dalam sehari, ia bisa membuat kendang antara 30 kendang hingga 40.

“Itu tergantung bahan baku. Umumnya setiap hari bisa antara 30-40 kendang. Kalau saya buatnya mentah (setengah jadi) nanti diambil,” ungkapnya.

Menekuni usaha ini, Heru menyebut potensinya cukup bagus. Dalam satu bulan ia bisa mendapatkan penghasilan antara Rp5 juta hingga Rp8 juta. Untuk harga kendang jimbe juga beragam mulai dari Rp100 ribu hingga Rp500 ribu.

Banyak investor mengakui, jika Blitar memang dikenal sebagai sentra kerajinan kendang jimbe terbaik di Indonesia. Secara bisnis, kerajinan jimbe ini merupakan usaha menjanjikan dan banyak permintaan dari luar negeri.

Salah satu investor yang memesan kerajinan kendang jimbe untuk dikirim ke negeri Cina tersebut yakni PT. Astra Internasional, Tbk. Bahkan pesanan ribuan kendang jimbe ke Tiongkok tersebut senilai Rp17 miliar.

Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Republik Indonesia pun mengapresiasi ekspor perdana kendang jimbe Blitar yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kementerian Desa pun mendorong para perajin jimbe untuk terus berkarya dan menghasilkan produksi yang berkualitas.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengapresiasi produk lokal karya warga Blitar tersebut. Dengan ekspor perdana kendang jimbe yang terbuat dari kayu dan kulit sapi tersebut, menjadikan Desa Ngoran semakin produktif dan lebih maju.

Selain itu, dengan usaha ini turut serta menyerap tenaga kerja. “Itu artinya bisa mengangkat lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran di desa. Karena pembuatan satu kendang jimbe banyak melibatkan orang, mulai dari yang menebang pohon, mengamplas batang pohon, mengecat, mengukir hingga mengemasnya,” kata Yandri, di sela pelepasan ekspor kendang jimbe ke Tiongkok, Selasa.

Menurut Yandri dengan adanya program ekspor kendang jimbe tersebut, ia meminta BUMDes mengelola programnya dengan baik dan profesional. Selanjutnya, untuk memajukan produknya, BUMDes agar terus berkolaborasi dengan perusahaan swasta, sehingga ekspor kendang jimbe terus berkelanjutan, dengan harapan BUMDes bisa membangun desa secara mandiri.

“Kata kunci kolaborasi, harus bisa mendorong sumber pangan dari desa, sumber energi dari desa, makan siang bergizi dan hilirisasi produk,” pungkasnya

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H