Kota Malang – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, mengubah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomis. Inovasi mahasiswa tersebut yakni membuat Sampah plastik menjadi kursi ecobrick.
Ketua tim Sandra Krisna Nugraha Putri mengatakan ide ini merupakan inspirasi mahasiswa yang sedang menjalankan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Dia menjelaskan ecobrick adalah inovasi sederhana yang melibatkan pemadatan sampah plastik ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi padat dan keras. Kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau kerajinan tangan.
“Ini untuk mendorong pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai, yakni mengubah sampah plastik menjadi ecobrick,” kata Sandra, Senin (30/9/2024).
Menurut dia, membuat kerajinan kursi ecobrick sangat mudah. Pertama yakni mengumpulkan sampah plastik, seperti kantong kresek, kemasan makanan, dan botol plastik yang tidak terpakai, lalu dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu dimasukkan ke dalam botol plastik bekas bertahap dan dipadatkan menggunakan alat seperti kayu atau besi kecil.
Diawali dengan menyusun ecobrick yang direkatkan menggunakan lem sehingga strukturnya jadi lebih stabil dan kokoh. Kemudian dibentuk digabungkan secara vertikal maupun horizontal.
Setelah struktur dasar kursi terbentuk, bagian atasnya bagian atasnya dilapisi dengan bahan yang lebih nyaman seperti kayu ataupun triplek. Triplek dipilih karena kekuatan, ringan, dan mudah dibentuk sesuai ukuran dan kebutuhan.
Ia menjelaskan triplek ini berfungsi sebagai penutup permukaan atas kursi yang memberikan kenyamanan saat digunakan. Triplek yang telah dipotong sesuai ukuran kemudian ditempelkan di atas susunan ecobrick dengan menggunakan lem kayu atau paku kecil agar tetap kokoh.
“Meski sederhana, kursi ecobrick ini dapat digunakan di berbagai lokasi. Baik di rumah, ruang publik, sekolah taman, dan lainnya. Selain bisa mengurangi sampai dan bisa dipakai, adanya kursi ecobrick ini juga bisa mendorong orang-orang untuk lebih memahami pentingnya daur ulang dan keberlanjutan,” ujar Sandra.
Ia dan tim berharap pengabdian ini bisa menjadi motivasi bagi anak-anak muda lain untuk berkreasi. Tidak hanya kreasi yang menguntungkan diri sendiri, tapi juga bermanfaat untuk masyarakat dan bumi. Adapun dalam prosesnya, Sandra tidak sendiri, ia ditemani Amanda Wijayati, Vina Habibah Camellia, Natasya Setyaning Maharani, dan Desinta Ayu Ramandani dengan bimbingan Rinaldy Achmad Roberth Fathoni.




















