Kota Malang, Tagarjatim.id – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Soekarno Hatta Kota Malang, aroma daging asap khas Nusa Tenggara Timur menyambut siapa pun yang melangkah masuk ke outlet Se’Indonesia. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari pembukaan gerai kali ini. Bukan hanya soal se’i sapi yang kaya rasa, tetapi tentang bagaimana sebuah tempat makan mencoba membuat setiap orang merasa benar-benar diterima.
Bagi Se’Indonesia, pengalaman makan tidak dimulai saat hidangan tersaji di meja. Ia dimulai sejak pelanggan membuka pintu, disambut senyum, bahasa tubuh, dan suasana yang membuat siapa pun merasa nyaman. Filosofi inilah yang dibawa Se’Indonesia ke Kota Malang, kota dengan denyut anak muda yang kuat, latar belakang yang beragam, dan dinamika sosial yang hidup.
Langkah ini terasa nyata saat Se’Indonesia Soehat Malang menggelar pelatihan dasar bahasa isyarat bagi tim outletnya. Bekerja sama dengan Komunitas Akar Tuli Malang, pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian soft opening.
Bagi sebagian kru, ini adalah pengalaman pertama mengenal cara berkomunikasi tanpa suara belajar menyapa, memahami gestur, dan menyadari bahwa komunikasi tak selalu harus verbal.
“Hospitality bagi kami bukan hanya tentang apa yang disajikan, tapi bagaimana setiap orang merasa diterima,” ujar Rinaldi Dharma Utama, Co-Founder & CEO Se’Indonesia.
Menurutnya, pelatihan sederhana ini membuka perspektif baru bagi tim bahwa empati dan usaha kecil untuk saling memahami bisa menciptakan pengalaman makan yang jauh lebih berkesan.
Di dapur, se’i sapi tetap diasap dengan teknik khas NTT, perlahan, penuh kesabaran, dan menjaga karakter rasa. Di ruang makan, pendekatan yang sama diterjemahkan dalam layanan yang fleksibel, peka, dan tidak kaku.
“Kami ingin mengatakan bahwa makanan enak akan terasa lebih lengkap jika disajikan dalam suasana yang ramah bagi siapa saja,” tambahnya.
Bagi pelanggan, terutama mereka yang memiliki kebutuhan komunikasi berbeda, upaya ini menghadirkan rasa aman. Bagi tim outlet, ini menjadi latihan kepekaan bahwa melayani bukan sekadar mencatat pesanan, melainkan membangun koneksi antarmanusia.
“Pendekatan inklusif ini juga mencerminkan arah baru dunia kuliner masa kini,” sambung Rinaldi.
Restoran tak lagi hanya berlomba soal menu, tetapi juga tentang nilai, pengalaman, dan keberpihakan pada kenyamanan pelanggan.
“Kami memilih memulainya dari hal paling mendasar yakni cara menyapa dan memahami,” tutup Rinaldi.
Didirikan pada 2022, Se’Indonesia kini telah memiliki lebih dari 170 outlet di 59 kota dan menyajikan puluhan juta porsi kepada pelanggan. Namun bukan hanya ekspansi dan angka, di balik itu, ada cerita kecil yang bermakna tentang gestur, empati, dan upaya membuat semua orang merasa punya tempat.
Karena pada akhirnya, pengalaman kuliner terbaik bukan hanya tentang rasa yang tertinggal di lidah, tetapi juga perasaan hangat yang dibawa pulang.
Se’Indonesia terinspirasi dari se’i, teknik pengasapan tradisional asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Daging diolah melalui proses slow-cooked yang telah dimodernisasi, memungkinkan cita rasa asap meresap secara perlahan sehingga menghasilkan tekstur yang konsisten, lembut, dan tetap juicy. Pendekatan ini dilakukan tanpa mengesampingkan kualitas bahan maupun keterjangkauan, sehingga hidangan dapat dinikmati lebih sering oleh masyarakat luas. (*)



















