Kabupaten Malang, Tagarjatim.id – Salah satu warung legenda di kawasan Kecamatan Turen bisa menjadi opsi anda untuk menikmati salah satu kuliner khas Kabupaten Malang. Jika anda berkesempatan berwisata ke daerah Kabupaten Malang selatan.
Ditempat tersebut, ada warung soto yang menyajikan soto khas Madura dan telah berdiri sejak 1916 silam. Namanya Warung Soto Mbah Khasirah.
Meskipun berada ditempat yang tidak mudah menemukan warung soto ini, karena berada di dalam pasar tradisional Kecamatan Turen, namun bagi warga lokal, warung soto ini sudah menjadi legenda dan menjadi jujukan warga lokal secara turun temurun.
Yang tentunya memiliki cita rasa rempah yang kompleks, soto daging sapi ini telah mengukir namanya hingga lebih dari satu abad.
Resep Turun Temurun
Pada dasarnya tidak ada resep yang istimewa dari Soto Mbah Kasirah. Namun, ia mempunyai kekuatan dari konsistensi resep yang diwariskan secara turun selama satu abad lebih.
Kekuatan utamanya terletak pada taburan koya yang ditaburkan di atas mangkuk, menciptakan rasa gurih yang paripurna.
Pemilik warung Mbah Kasirah, Tika mengatakan soto Mbah Kasirah ini pertama kali didirikan oleh kakek buyut suaminya, Mbah Lairin.
“Resep ini tidak pernah berubah sampai sekarang,” ungkapnya.
Tika menyebut, ia adalah generasi keempat dari kakek buyutnya itu. Ia mendapat warisan warung Mbah Kasirah ini dari ibu mertuanya, Kasirah.
“Jadi nama Mbah Kasirah ini diambil dari nama ibu mertua saya,” jelasnya.
Selain daging sapi dan taburan koya, hidangan soto ini juga diperkuat dengan lontong dan sedikit campuran kecambah. Kemudian disiram dengan kuah kental yang diolah dari berbagai rempah-rempah khas Indonesia.
Jika anda ingin merasakan kenikmatan yang lebih paripurna, Tika menyarankan soto ini ditambah dengan kecap serta disantap bersama kerupuk udang.
“Alhamdulillah pelanggan kami betah dengan resep soto kami. Banyak pelanggan lama kami sering datang ke sini, bahkan secara turun temurun ke anak-anak mereka,” ujarnya.
Buka hanya Lima Jam
Warung Soto Mbah Kasirah bisa dibilang menjadi kuliner andalan warga setempat. Sebab, warung soto ini mampu habis sekitar 5 jam saja.
“Saya buka sekitar pukul 07.00 WIB, dan jam 12.00 WIB biasanya sudah habis,” terang Tika yang di temui pada Kamis (29/1/2026)
Selama lima jam itu, jumlah porsi terjual mencapai 50 mangkuk.
Namun, menurut Tika jumlah penjualan sebanyak itu terbilang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, terlebih pada saat ibu mertuanya masih hidup.
“Sejak Pandemi Covid-19, penjualan kami menurun drastis, kalah dengan makanan yang dijual secara online,” bebernya.
Meski begitu, Tika mengaku tetap tidak akan menaikkan harga setiap porsinya meski jumlah pembelinya cenderung menurun.
“Setiap mangkuknya sekarang Rp 14 ribu,” pungkas Tika.(*)




















