Kota Malang, Tagarjatim.id – Harga kedelai impor yang melambung tinggi, memaksa perajin tempe di Kampung Sanan yang terletak di Jalan Sanan Kecamatan Blimbing Kota Malang memangkas kapasitas produksi.

Salah seorang perajin tempe, Subiantoro mengatakan, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak akhir Desember 2025.

“Sekarang, harga kedelai naik menjadi Rp 9.800 per kilogram dari yang sebelumnya berkisar antara Rp 9.500 hingga Rp 9.600 per kilogram. Hingga sekarang, harganya tetap bertahan masih tinggi,” jelasnya, Senin (26/1/2026).

Dengan adanya kenaikan harga bahan baku utama tersebut, maka pihaknya terpaksa harus memangkas jumlah produksi. Dari yang semula 5 kuintal, kini hanya menjadi 4,5 kuintal tempe per hari.

“Kami tidak mengurangi bahan sehingga ukuran tempenya tetap normal, tetapi lebih memilih memangkas jumlah produksi dan ini juga dilakukan oleh perajin lainnya,” tambahnya.

Subiantoro juga mengungkapkan, bahwa mengandalkan kedelai impor untuk bahan baku produksi tempenya. Meski harganya naik, tetapi suplainya selalu tersedia.

“Sebenarnya, hasil tempenya lebih bagus kalau pakai kedelai lokal. Namun, kedelai lokal ini suplainya sedikit dibandingkan kedelai impor. Selain itu, ukuran kedelai lokal kecil-kecil sehingga butuh banyak untuk produksi tempe,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Kampung Tempe Sanan, Trinil Sri Wahyuni mengungkapkan, bahwa kenaikan harga kedelai impor disebabkan karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

“Kedelai impor ini mengikuti harga dolar, kalau harga dolar naik maka harga kedelai impor juga ikut naik. Dengan adanya kenaikan ini, tentu sangat berpengaruh baik terhadap perajin tempe maupun pembuat kripik tempe,” terangnya

Dirinya mengungkapkan di Kampung Tempe Sanan, terdapat 500 perajin tempe maupun pembuat kripik tempe. Dengan adanya kenaikan harga kedelai yang signifikan, sehingga harus melakukan langkah strategi.

“Untuk sekarang, pembuat kripik tempe baru memproduksi ketika ada permintaan pasar. Saat permintaannya banyak, baru produksi dalam jumlah besar dan tidak lagi stok banyak karena takut merugi,” ungkapnya.

Selain itu langkah strategi lainnya, mengurangi jumlah kripik tempe di tiap bungkusnya hingga tidak menutup kemungkinan harganya akan dinaikkan.

“Kemungkinan harga kripik tempenya akan dinaikkan, yang sekarang ukuran kemasan kecil berkisar Rp 6.000 hingga Rp 6.500 naik sekitar seribu atau dua ribu. Atau dengan cara harga tetap normal, namun jumlah isi kripik tempe di tiap bungkusnya dikurangi satu atau dua keping,” pungkasnya.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H