Sidoarjo, Tagarjatim.id – Aroma gurih langsung menyergap saat sepiring gyoza panas mendarat di meja sebuah kafe di tepi sungai Dusun Karanggayam, Sidoarjo. Bentuknya mungil dan renyah, jauh dari bayangan lontong kupang yang selama ini melekat pada kupang.
“Banyak pengunjung awalnya kaget, tidak menyangka kupang bisa tampil seperti ini,” ujar Sabrina Anindya Anisa Fitri, atau yang akrab disapa Nosa, Minggu (25/01/2026).
Kupang memang sudah lama menjadi identitas kuliner Kota Delta. Namun, di Kopili Sidoarjo, bahan laut khas tersebut tak lagi hadir dalam balutan kuah dan lontong.
“Kami ingin memperkenalkan kupang dengan wajah baru tanpa menghilangkan rasa aslinya,” kata Nosa, menjelaskan ide di balik gyoza kupang.
Menu ini lahir dari eksplorasi dapur yang cukup panjang. Kupang diolah agar lebih fleksibel, ringan, dan akrab dengan lidah generasi muda.
“Target kami memang anak muda, supaya mereka tidak merasa asing dengan makanan tradisional,” tuturnya.
Tak berhenti di gyoza, Kopili juga menghadirkan nasi goreng kupang sebagai alternatif lain. Berbeda dengan olahan tradisional yang cenderung basah, kupang diproses melalui tahap khusus sebelum masuk ke wajan.
“Kupang kami cuci bersih, diperas, lalu digoreng kering terlebih dahulu,” jelas Nosa.
Proses tersebut bukan tanpa alasan. Selain menjaga tekstur nasi goreng tetap pulen, cara ini juga menekan aroma khas kupang yang sering dianggap terlalu kuat.
“Dengan digoreng kering, teksturnya jadi kriuk dan aromanya lebih bersahabat,” ujarnya sambil tersenyum.
Pada gyoza kupang, rasa laut tetap menjadi bintang utama. Kupang dipadukan dengan ayam dan tepung sebagai pengikat adonan.
“Perbandingannya dua banding satu, supaya kupangnya tetap dominan,” kata Nosa menegaskan komposisi resepnya.
Pilihan menggunakan kupang juga selaras dengan konsep besar Kopili yang sejak awal mengangkat tema Sidoarjo. Bagi Nosa, kupang bukan sekadar bahan baku, melainkan simbol kedekatan emosional masyarakat dengan laut.
“Kupang punya nilai sejarah dan cerita sendiri bagi warga Sidoarjo,” ujarnya.
Menariknya, gyoza kupang dan nasi goreng kupang bukan menu baru. Keduanya sudah hadir sejak Kopili berdiri empat tahun lalu.
“Awalnya peminatnya tidak sebanyak sekarang, banyak yang ragu karena belum terbiasa,” kenang Nosa.
Keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran, lalu kesetiaan. Menjelang akhir 2025, permintaan justru melonjak drastis.
“Dulu kami hanya mengolah satu kilogram kupang per minggu, sekarang bisa sampai delapan kilogram,” ungkapnya.
Popularitas gyoza kupang bahkan mulai menggeser menu konvensional. Nasi goreng ayam dan udang tak lagi sendirian menjadi primadona.
“Sekarang nasi goreng kupang dan gyoza kupang jadi menu andalan kami,” kata Nosa.
Dengan harga yang ramah di kantong Rp15.000 untuk lima buah gyoza kupang dan Rp18.000 untuk nasi goreng kupang menu ini menjangkau berbagai kalangan.
“Milenial biasanya pilih nasi goreng kupang, sementara Gen Z lebih tertarik gyoza karena tampilannya kekinian,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tren, inovasi ini menjadi upaya menaikkan kelas kupang di mata generasi baru. Proses pengolahan yang bersih dan matang menjadi perhatian utama.
“Kami pastikan kupang aman dikonsumsi dan nyaman di perut,” tegas Nosa.
Baginya, gyoza kupang adalah cara sederhana menjaga tradisi agar tetap hidup.
“Kupang tidak harus selalu lontong kupang. Ia bisa hadir di kafe, di meja anak muda, tanpa kehilangan akar budayanya,” pungkasnya.
Di tengah maraknya kuliner modern, gyoza kupang membuktikan bahwa rasa lokal tak pernah usang. Ia hanya menunggu cara baru untuk diceritakan kembali dari dapur tradisi, menuju meja generasi masa kini.(*)




















