Kota Surabaya, tagarjatim.id – Suasana di Jalan Sememi Jaya VIII, Benowo, Surabaya, Jumat (5/9/2025) dini hari, semula dipenuhi sorak lega. Api yang melahap rumah warga berhasil dijinakkan setelah lima unit truk pemadam kebakaran dikerahkan. Asap mulai menipis, petugas bergantian melepas masker, dan warga sekitar menghela napas panjang. Namun, tak ada yang menyangka, momen lega itu berubah jadi duka mendalam.
Edi (50), seorang komandan regu dari Pos Kandangan, berjalan menyusuri puing-puing bangunan yang hangus. Ia memastikan tak ada titik api yang tersisa. Prosedur itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai pemadam kebakaran selama bertahun-tahun. Rekan-rekannya mengenal Edi sebagai sosok gerak cepat, penuh inisiatif, dan jarang meninggalkan tugas tanpa tuntas.
Namun, langkah Edi mendadak terhenti. Tubuhnya ambruk di antara sisa-sisa bangunan. Rekan-rekannya sontak panik. Mereka berlari, berusaha mengangkat tubuh sang komandan regu yang tak lagi sadarkan diri.
“Jadi bukan saat menyemprot. Tapi saat setelah padam, dan Pak Edi melakukan penyisiran. Pada proses itu, kesetrumnya,” jelas Kabid Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya, Wasis Sutikno, Sabtu (6/8/2025).
Wasis menjelaskan, meskipun MCB rumah sudah dipastikan dalam posisi off, masih ada aliran listrik dari sumber utama PLN yang tidak terdeteksi.
“Aliran listrik ini tidak kelihatan, padahal teman-teman tahunya dari MCB yang off,” katanya. Diduga, ada kabel putus yang menyalurkan arus ke puing-puing basah, hingga membuat langkah Edi berakhir tragis.
Tim pemadam tak tinggal diam. Pertolongan pertama dilakukan di lokasi. Resusitasi Jantung Paru (RJP) diberikan bergantian oleh rekan-rekannya. Sesaat, Edi menunjukkan respons yang sangat lemah. Harapan muncul, meski tipis. Tim medis segera mengevakuasinya ke RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya. Namun, perjalanan itu menjadi detik-detik terakhirnya. “Informasinya, di perjalanan, beliau meninggal dunia,” ujar Wasis.
Kabar duka langsung menyebar. Di antara rekan sejawat, nama Edi lebih akrab dipanggil “Edi Doank”. Sosoknya dikenang sebagai pribadi ringan tangan, humoris, sekaligus penghibur di tengah kerasnya pekerjaan.
“Orangnya gercep, suka menghibur rekan-rekan lainnya, humoris, ringan bantu kerjaan,” kenang Wasis dengan mata berkaca-kaca.
Edi bukanlah orang baru di tubuh DPKP Surabaya. Sejak 1 Januari 2008, ia resmi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di instansi itu. Kariernya menanjak, hingga pada 1 Desember 2017 ia dipercaya memimpin sebagai Komandan Regu II Pos Pembantu Kandangan. Di balik seragamnya, ia adalah seorang ayah dua anak. Baru dua bulan lalu, ia menikahkan anak pertamanya, momen yang menjadi kebanggaan sekaligus kebahagiaan sebelum maut menjemputnya.
Jenazah Edi dibawa ke rumah duka di Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Pagi itu, sekitar pukul 08.00 WIB, ia dimakamkan dengan suasana haru. Isak tangis keluarga dan rekan kerja mengiringinya ke peristirahatan terakhir. Bagi banyak orang, Edi bukan sekadar komandan regu pemadam kebakaran. Ia adalah simbol dedikasi, keberanian, dan pengabdian hingga akhir hayat. (*)




















