Kabupaten Sidoarjo, tagarjatim.id – Gudang Pabrik Gula (PG) Kremboong, Sidoarjo, kian penuh oleh tumpukan gula. Dalam sebulan terakhir, stok yang belum terserap pasar sudah mencapai 3 ribu ton. Kondisi itu membuat petani gelisah. Pasalnya, semakin lama gula menumpuk, biaya terus berjalan dan ancaman denda pun mengintai.
“Pasar dibanjiri gula rafinasi dengan harga lebih murah. Petani kesulitan biaya untuk tebang dan giling. Kalau stok terlalu lama di gudang, petani bisa kena denda,” ungkap Bastony Choiri, Manajer Keuangan dan Umum PG Kremboong, Kamis (4/9/2025).
PG Kremboong yang berdiri sejak 1847 itu memiliki kapasitas giling 2.500 ton tebu per hari, menghasilkan 130–160 ton gula. Bahan bakunya bukan hanya dari Sidoarjo, tetapi juga Pasuruan, Mojokerto, Malang, hingga Lumajang. Bastony menegaskan, tanpa intervensi pemerintah, ribuan petani berpotensi merugi besar.
Menanggapi keluhan itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memastikan pemerintah hadir. Ia menyebut, Badan Layanan Umum (BLU) Danantara telah menyiapkan anggaran Rp1,5 triliun untuk membeli gula petani.
“Di beberapa wilayah sudah berjalan. Misalnya di Lumajang, stok petani bisa langsung terserap hari itu juga,” ujar Khofifah saat meninjau pasar murah di Taman, Sidoarjo.
Namun, penyerapan itu masih terbatas. Dari 30 lebih pabrik gula di Jatim, baru tujuh yang digandeng Danantara, yakni PG Assembagoes Situbondo, PG Pradjekan Bondowoso, PG Semboro Jember, PG IGG Banyuwangi, PG Gempol Krep Mojokerto, PG Ngadirejo Kediri, dan PG Pesantren Baru Kediri. Nama PG Kremboong belum tercantum dalam daftar tersebut.
“Harapan kita, semua pabrik gula bisa terserap, termasuk PG Kremboong. Jangan sampai petani kesulitan menjual hasil panennya, sementara masyarakat tetap membutuhkan gula dengan harga wajar,” tegasnya.
Persoalan semakin pelik karena pasar rumah tangga dibanjiri gula rafinasi. Padahal, aturan jelas menyebut produk itu hanya boleh untuk industri, bukan konsumsi masyarakat. Serbuan gula rafinasi membuat gula petani terdesak di gudang, kalah bersaing dari sisi harga.
Karena itu, Khofifah menekankan pentingnya komunikasi intensif antara pemerintah, pabrik gula, dan lembaga penyerapan. Selain itu, ketegasan pemerintah pusat dalam membatasi peredaran gula rafinasi sangat dinanti. “Kalau tidak ada pengawasan ketat, petani kita akan semakin terjepit,” ujarnya. (*)




















