Batu, tagarjatim.id – Suasana sore di halaman Balai Kota Among Tani, Kota Batu, mendadak penuh semangat ketika warga berkumpul dalam deklarasi gerakan “Jogo Mbatu”, Minggu (31/8/2025) sekitar pukul 16.00 WIB. Gerakan ini digagas oleh M. Anwar, penggiat budaya yang resah melihat kondisi bangsa belakangan ini.
Deklarasi Jogo Mbatu lahir dari kegelisahan masyarakat terhadap situasi nasional yang dianggap kian suram. Rakyat merasa aspirasi makin jauh dari jalurnya, sementara korban terus berjatuhan.
“Jogo Mbatu ini cara kami berteriak, agar pejabat tak mengkhianati amanat rakyat, agar kita tetap waras dan tidak larut dalam provokasi,” tegas Anwar.
Tiga seruan utama yang disuarakan yakni pertama mengingatkan aparat dan pejabat agar tak menyeleweng dari amanah rakyat. Kedua, menghidupkan kembali semangat jogo seduluran, menjaga rumah, kampung, kota, hingga Indonesia. Sedangkan tuntutan ketiga yakn menegaskan rakyat tak boleh terjebak manuver elite yang memecah belah.
Anwar juga menyentil maraknya penjarahan situs budaya di berbagai daerah.
“Kemanusiaan memang utama. Tapi jangan lupa, cagar budaya ratusan tahun juga ikut jadi korban. Itu luka yang menyesakkan,” ungkapnya.
Menurutnya, Batu punya keistimewaan yakni kota yang adem ayem, toleran, dan kondusif karena warganya kompak menjaga suasana.
“Kondusifitas Batu bukan pencitraan. Itu lahir dari partisipasi warganya. Dari Batu, mari kita jaga Indonesia bersama,” pungkas Anwar.
Gerakan Jogo Mbatu menjadi pesan keras dari Kota Batu: rakyat bisa menjaga persatuan tanpa harus kehilangan kewarasan, dan bisa menolak provokasi tanpa kehilangan solidaritas. (*)




















