Mojokerto, Tagarjatim.id – Sabtu malam, 16 Agustus 2025 selepas syukuran kemerdekaan, tumpeng sudah tandas, doa sudah terlantun, namun malam belum selesai. Justru warga RT 01/RW 02 Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, larut dalam tawa dan nostalgia layar tancap.
Di halaman rumah warga lingkungan itu, selembar kain putih terbentang di antara dua tiang. Saat proyektor menyala, generasi tua tersenyum bernostalgia, sementara anak muda terperanjat, begitu hangatnya suasana nobar kemerdekaan.
Proyektor menyalakan kembali semangat kebersamaan, menghadirkan nostalgia dalam wujud layar tancap.
Tawa bocah, tepuk tangan orang tua, dan sorakan remaja berpadu. Gen Z yang biasa menonton di ponsel, kini merasakan hangatnya kebersamaan di bawah langit terbuka.
Di bawah langit yang mulai bertabur bintang, selembar kain putih berukuran sekitar 7 x 3 meter terbentang di antara dua tiang. Tak lama berselang, sorotan proyektor menembus gelap, menghadirkan bayangan hidup di atas kain, sebuah layar tancap.
Begitu adegan pertama muncul, riuh rendah suara anak-anak bercampur tawa orang dewasa. Generasi tua larut dalam nostalgia, sementara Gen Z, yang lebih akrab dengan Netflix dan YouTube tampak terperanjat.
“Rasanya seperti nonton bioskop, tapi lebih ramai dan lebih hangat,” celetuk seorang remaja yang asyik duduk lesehan bersama teman-temannya.
Malam itu, tiga film bergiliran diputar: Darah Garuda yang memompa adrenalin perjuangan, Mumpung Ada Kesempatan yang menyuguhkan tawa renyah, hingga sebuah film aksi yang memaksa penonton menahan napas. Semua dengan durasi hampir satu setengah jam, seolah memindahkan warga ke masa ketika layar tancap menjadi primadona hiburan rakyat.
Andre Winardi, Ketua RT setempat, menjelaskan bahwa layar tancap sengaja dihadirkan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan RI.
“Ini bukan hanya soal hiburan. Kami ingin menghidupkan kembali memori kolektif warga, bahwa dulu layar tancap adalah ajang guyub, ajang kebersamaan. Nostalgia yang penting di tengah era digital seperti sekarang,” ujarnya.
Tak banyak yang tahu, untuk menghadirkan malam penuh kesan ini warga patungan menyewa paket film dari Slamet Mujiono, pelaku usaha layar tancap asal Ngoro, Jombang. Biayanya Rp1,2 juta, sebuah harga yang dianggap sepadan dengan kegembiraan yang mereka peroleh.
Konon, layar tancap sudah ada sejak zaman pendudukan Jepang. Di masa keemasannya, terutama era 1970–1990-an, layar tancap tak hanya jadi hiburan tetapi juga ruang sosial. Anak-anak muda mencari pertemanan, keluarga melebur dalam kebersamaan, bahkan tak jarang menjadi ajang pendekatan bagi pasangan remaja.
Kini, di tengah gempuran televisi, bioskop modern, dan tontonan daring, layar tancap seperti hidup enggan mati tak mau. Ia bertahan di sela-sela ingatan kolektif, hadir sesekali, menjadi bahasa perlawanan atas digitalisasi yang membekap rasa.
Bagi warga Meri, layar tancap malam itu bukan sekadar “nonton film”. Ia menjelma jadi perayaan, tentang kemerdekaan, tentang kebersamaan, tentang romantika sederhana yang nyaris hilang dari denyut kota. Malam itu, warga Kota Mojokerto bukan hanya menonton film. Mereka menonton bintang, menonton diri mereka sendiri dalam cermin kenangan yang ditarik dari masa lalu. (*)




















