Malang, tagarjatim.id — Setelah hampir tiga pekan menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, dua dokter dari Universitas Brawijaya (UB), Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat dan Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, akhirnya kembali ke Indonesia.

Kepulangan mereka disambut haru di kampus UB, bukan hanya sebagai kembalinya dua dosen, melainkan sebagai kembalinya representasi keberanian, empati, dan nilai kemanusiaan.

Terlibat dalam tim relawan bersama Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan Rahmah Worldwide, kedua dokter ini bertugas di Rumah Sakit An-Nasr dan Rumah Sakit Eropa. Di sana, mereka menyaksikan langsung kondisi memilukan akibat krisis kemanusiaan yang akut.

Bertugas di tengah keterbatasan dan ancaman Dr. Kuntadi dan Dr. Ristiawan berbagi pengalaman yang menggetarkan hati.

Menurut Ristiawan, situasi rumah sakit di Gaza dipenuhi pasien yang mengalami luka fisik akibat serangan bom dan kelaparan masif. Bahkan, kapasitas ruang perawatan membludak hingga 250% dari kondisi normal, memaksa pasien dirawat di tenda-tenda darurat.

“Standar medis yang biasa kami jalankan tak bisa diterapkan sepenuhnya. Kami harus menggunakan alat dan obat seadanya, bahkan obat-obatan lama yang sudah jarang dipakai,” kata Ristiawan, Selasa (5/8/2025).

Selain keterbatasan medis, dirinya bersama tim relawan juga menghadapi ancaman keamanan yang konstan. Suara dentuman bom dan ancaman penembak jitu (sniper) menjadi pemandangan sehari-hari.

Ristiawan menceritakan kelaparan parah yang melanda, tidak hanya dirasakan penduduk Gaza, tenaga medis pun juga merasakan kelaparan hingga pingsan karena tidak makan.

“Seorang dokter spesialis sampai harus diinfus. Anaknya menangis semalaman karena lapar. Dan kami tak tega makan sendiri. Bahkan pernah satu permen kopiko kami bagi ke dokter di sana. Mereka menerimanya dengan penuh syukur,” kenangnya.

Meski dihadapkan pada penderitaan luar biasa, kedua dokter spesialis tersebut melihat ketegaran warga Gaza. Mereka mengaku terkesan dengan ketahanan warga sipil si Gaza. Meskipun lapar, tapi mereka tidak kehilangan harapan.

“Mereka lapar, tapi tidak kasar. Hungry but not angry,” kata Ristiawan

Meskipun demikian, tekad mereka untuk menolong tidak pernah padam.

“Kematian sudah ditentukan. Kenapa harus takut? Takdir kita sudah tertulis sebelum lahir, jadi saya menerima tawaran ini bahkan sebelum izin ke keluarga,” tambah Dr. Kuntadi.

Selama di Gaza, salah satu momen yang paling membekas bagi Kuntadi adalah saat ia menangani seorang anak perempuan berusia belum genap dua tahun yang terkena peluru, tergeletak di lantai tanpa perawatan yang layak.

Setelah kembali ke tanah air, Kuntadi dan Ristiawan mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak menutup mata terhadap kondisi di Palestina. Mereka menekankan bahwa bantuan tidak harus selalu berupa materi.

“Dalam kondisi serba terbatas, kehadiran, kepedulian, doa, bahkan satu tindakan kecil pun bisa menjadi kekuatan besar bagi mereka yang bertahan,” tutur Dr. Kuntadi.

Kisah dua dokter ini pun menjadi pengingat bahwa ilmu dan profesi bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan jalan untuk memberi makna. Keberanian, empati, dan tanggung jawab global yang mereka tunjukkan menjadi cerminan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat tumbuhnya nilai kemanusiaan yang sesungguhnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H