Banyuwangi, tagarjatim.id – Lambatnya Pertamina mengatasi krisis distribusi BBM di Jember, membuat sejumlah warga menempuh berbagai cara demi mendapatkan bensin. Tak hanya antrean di berbagai SPBU di Jember yang mengular, sejumlah warga juga menempuh jalur yang terbilang ekstrem.

Sejumlah SPBU yang ada di Banyuwangi kawasan Barat, terimbas antrean warga. Banyak warga yang berasal dari pedesaan di Jember bagian timur, nekat melintas ke Banyuwangi.

Karena Jalur Gumitir yang merupakan jalur penghubung utama Jember-Banyuwangi ditutup total, para warga Jember ini harus melintasi kawasan hutan di lereng Gunung Gumitir, demi mendapatkan bahan bakar.

Jalanan terjal, licin, dan penuh risiko tak menyurutkan langkah mereka untuk mendapatkan Pertalite di SPBU wilayah Banyuwangi barat.

Informasi yang dihimpun tagarjatim.id di lapangan, para warga Jember tersebut berasal dari beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Banyuwangi. Diantaranya Sumberjambe, Silo, Ledokombo, Mayang dan Sukowono.

Mereka datang menggunakan sepeda motor sambil membawa jeriken, bahkan ada yang membawa dua kendaraan sekaligus.

Seperti yang terjadi di SPBU Kalibaru, antrean ikut mengular, meski tidak sepanjang seperti yang terjadi di Jember.

Nur Kartika, warga dari Desa Mrawan, Kecamatan Mayang harus menempuh jarak hingga 40 kilometer untuk mencari bensin. Sebagai buruh perkebunan, ia mau tidak harus membutuhkan kendaraan bermotor untuk bisa bekerja mendapatkan nafkah.

Tak sendiri, Nur Kartika bersama suami dan anaknya menyebar ke tiga SPBU yang berbeda di Banyuwangi. Yakni SPBU di Kalibaru, Krikilan, dan Curahketangi. Hingga sore, ia belum juga memperoleh bahan bakar. “Kami buruh kebun. Kalau harga segitu terus, jelas berat. Upah kami Rp50 ribu, tapi beli bensin Rp25 ribu seliter,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan di Budi Santoso, warga Desa Sumberwaru, Kecamatan Kalisat yang mengaku harus berangkat sejak dini hari bersama istrinya. “Sampai sore baru dapat 10 liter. Itu pun cuma cukup untuk dua hari,” ujar pria yang berprofesi sebagai pedagang keliling ini.

Budi mengaku antrean di Jember lebih padat dan stok BBM terbatas. Sementara membeli BBM eceran dinilai terlalu mahal, mencapai Rp25 ribu per liter.

Para warga tersebut terpaksa memilih jalur alternatif lewat perkebunan kopi Garahan hingga Kalibaru, melewati jalan setapak dan licin, terutama saat hujan turun.

Informasi yang dihimpun, lonjakan kedatangan warga Jember yang mencari BBM ke Banyuwangi tercatat di beberapa SPBU, terutama SPBU Kalibaru, Krikilan, dan Curahketangi. Antrean juga mulai terlihat di SPBU Tegalyasan (Sempu) dan Kembiritan (Genteng).

Seperti diketahui, krisis distribusi BBM terjadi sejak Sabtu (26/7/2025), dua hari setelah pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum menutup total Jalur Gumitir untuk perbaikan selama dua bulan. Jalur ini merupakan akses utama penghubung Jember dan Banyuwangi.

Penutupan jalur tersebut berdampak besar terhadap distribusi logistik, termasuk pasokan bahan bakar. Bupati Jember, Muhammad Fawait telah mengirimkan protes resmi kepada pemerintah pusat. Karena penutupan Jalur Gumitir telah mengakibatkan dampak serius dalam kehidupan perekonomian warga Jember. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H