Jember, tagarjatim.id – Krisis distribusi BBM yang terjadi di Jember sejak Sabtu (26/07/2025) direspons cepat oleh Pemkab Jember. Krisis tersebut terjadi sebagai imbas dari penutupan Jalur Gumitir oleh pemerintah pusat.
Setelah berkoordinasi dengan DPRD Jember, bupati Muhammad Fawait mengeluarkan keputusan untuk menetapkan pembelajaran sekolah dilakukan secara daring. Selain itu, ASN Pemkab Jember yang tidak terlibat langsung dalam pelayanan publik, ditetapkan untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH).
“Langkah ini diambil agar aktivitas masyarakat tetap berjalan meski distribusi BBM terganggu,” ujar Bupati Fawait dalam konferensi pers bersama pimpinan DPRD dan kepala OPD di Gedung DPRD Jember, Senin (28/7/2025) malam.
Kebijakan ini berlaku untuk semua sekolah di bawah naungan Pemkab Jember, baik negeri maupun swasta. Sementara untuk SMA dan madrasah di bawah kewenangan Pemprov maupun Kemenag, Pemkab akan melakukan koordinasi agar kebijakan serupa bisa diterapkan.
Pemkab Jember juga menegaskan akan turun langsung ke lapangan bersama unsur DPRD Jember untuk memetakan akar masalah dan mempercepat normalisasi distribusi BBM. “Kami akan turba untuk mencari solusi konkret di lapangan,” tegas pria yang akrab disapa Gus Fawait ini.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying (pembelian karena khawatir). Sebab, Pertamina saat ini disebut telah mengirimkan pasokan BBM dalam jumlah besar ke Jember dari berbagai daerah, termasuk Malang, Surabaya, dan Solo.
Terkait penutupan total jalur Gumitir yang diduga memicu kelangkaan BBM, Pemkab Jember berencana mengirim nota protes resmi. “Dampaknya sangat besar, dan kami akan menyampaikan protes sebagaimana sebelumnya juga disuarakan DPRD,” kata Fawait.
Seperti diketahui, krisis pasokan BBM di Jember terjadi sejak Sabtu (26/07) atau hanya dua hari setelah penutupan jalur nasional Gumitir pada Kamis (24/7/2025). Jalur utama penghubung Jember – Banyuwangi itu ditutup oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali.
Penutupan dilakukan selama 2 bulan hingga 24 September 2025. Penutupan total dilakukan karena sedang akan dilakukan proyek preservasi atau perbaikan menyeluruh jalan nasional di titik rawan longsor tersebut.
Meski penutupan total dilakukan selama dua bulan, pekerjaan perbaikan diperkirakan akan berlangsung hingga lima bulan ke depan.
Selama masa penutupan, BBPJN telah menyiapkan tiga jalur alternatif, yakni melalui Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo, untuk menunjang konektivitas antarwilayah Jember–Banyuwangi.
Kementerian PU melalui BBPJN Jatim Bali juga mengklaim, telah melakukan kajian mendalam dan koordinasi lintas sektoral untuk mengantisipasi penutupan total Jalur Gumitir. (*)




















