Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Pabrik Gula (PG) Kebonagung kembali melaunching varietas tebu unggulan, di lahan pengembangan tanaman tebu PG Kebonagung di Desa Sempalwadak, Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, Jumat (18/7/2025).

Direktur Utama PG Kebonagung, Didit Taurisianto bersyukur kepada Allah SWT sehingga dapat menghadiri acara Launching Varietas Tebu Unggul Baru PSKA095 dan PSKA062 serta peluncuran produk gula premium.

“Launching gula premium hari ini menjadi kebanggaan baru dalam dunia pangan Indonesia,” ungkap Didit.

Didit melanjutkan, peluncuran varietas unggulan sejalan dengan strategic business plan PT Kebon Agung khususnya Pilar On Farm dan Pilar Diversifikasi dengan program kerja mulai dari hulu.

“Program kita siapkan mulai dari hulu yaitu bahan baku sampai dengan hilir yakni varian produknya. Sehingga kami mewujudkan visi misi perusahaan yaitu menjadi salah satu perusahaan gula terbaik dan berdaya saing tinggi di Asia Tenggara,” tegasnya.

Didit membeberkan, PT Kebon Agung merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam industri gula secara intensif dalam melakukan penelitian dan percobaan dalam rangka menemukan tebu varietas unggul baru dengan sifat kemasakan awal sampai dengan tengah yang diminati oleh petani tebu,” ujarnya.

Temuan varietas baru ini, sambung Didit, mempunyai tingkat produktivitas relatif tinggi dan tahan kepras (rawat ratoon) sebagai “pendamping” varietas eksisting (didominasi oleh varietas tebu BL).

Menurut Didit, launching varietas unggul baru (VUB) kali ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan oleh PT Kebon Agung setelah sebelumnya dilaksanakan di PG Trangkil tahun 2022 lalu dengan varietas yang dilaunching yaitu PSKA942.

“Pada kesempatan kali ini, kita launching varietas unggul baru lainnya yaitu PSKA095 dan PSKA062 setelah sebelumnya direalese pada

sidang pelepasan varietas di kantor Kementerian Pertanian Jakarta pada akhir tahun 2022,” urainya.

Varietas PSKA095 dan PSKA062 merupakan pelengkap PSKA942. Dimana ketiga varietas tersebut, kata Didit, memiliki sifat kemasakan yang sama yaitu awal sampai tengah. Sehingga, diharapkan pada awal giling rendemen yang dihasilkan bisa sesuai harapan.

“Dikarenakan pada saat awal giling tebu yang digiling relatif sudah masak. Dengan begitu kami berharap PG tidak perlu lagi mengalah dikarenakan nilai atau harga tebu sudah sesuai dengan kualitas (rendemen) yang dikandung seperti halnya yang terjadi akhir-akhir ini,” ujarnya.

Kedepan, Didit mengaku akan terus menggelorakan semangat penelitian dan percobaan termasuk terobosan-terobosan baru agar bisa ditemukan varietas unggul baru yang kemampuannya, setara dengan varietas eksisting yang cenderung dominan.

“Selanjutnya untuk produk Gula Premium ini lahir dari keinginan perusahaan untuk memenuhi segmen pasar yang menghendaki Produk GKP dengan kualitas warna dibawah 100 Icumsa Unit,” ucapnya.

Didit membeberkan, perilaku konsumen saat ini sudah berubah yang didasari dari kesadaran konsumen terhadap kesehatan serta banyaknya iklan yang memberikan edukasi terhadap mutu gula. Sehingga permintaan konsumen terhadap kualitas gula putih (ICUMSA dibawah 120 IU) dan gula sehat (tidak mengandung belerang dan bersih) terus meningkat.

“Di sisi lain dari regulator telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 68/Permentan/OT.140/6/2013 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Gula Kristal Putih (GKP) secara wajib, pada bulan Juni tahun 2015 dan secara bertahap melakukan amandemen peraturan tersebut seiring dengan tuntutan konsumen akan kualitas gula konsumsi. Khususnya pada warna gula dan kadar belerang, serta logam berat, mengarah pada terbentuk hanya satu jenis kualitas gula konsumsi (GKP) sama dengan kualitas Gula Kristal Rafinasi (GKR),” paparnya.

Untuk itu, tambah Didit, PT Kebon Agung sudah menjalankan program peningkatan mutu di kedua unit baik di PG Kebon Agung dan PG Trangkil.

Program Peningkatan Mutu PT Kebon Agung, sambungnya, sudah dimulai pada tahun 2014 untuk PG Kebon Agung dan selesai pada tahun 2019.

Sedangkan untuk PG Trangkil, sudah dimulai pada tahun 2020 dan rencananya selesai pada tahun 2026.

Program ini bersifat multi years dan tanpa menghentikan Giling di kedua Pabrik tiap tahunnya. Dengan total anggaran untuk program ini mencapai hampir Rp600 milyar yang bersumber dari murni pendanaan internal perusahaan.

Sehingga saat ini, PT Kebon Agung mempunyai kemampuan memproduksi kualitas gula sesuai permintaan konsumen dengan berbagai segmen.

“Setelah peluncuran Gula Premium ini akan segera disusul peluncuran produk-produk lain sesuai dengan permintaan dan perkembangan regulasi untuk memenuhi amanah dari Perpres no 40 tahun 2023 untuk mewujudkan swasembada gula, baik untuk gula konsumsi maupun gula Industri. Dengan peluncuran gula premium ini perusahaan berharap bisa mendorong pertumbuhan penjualan dan diharapkan mampu menarik perhatian pasar baru yang menginginkan produk dengan kualitas tinggi dan lebih sehat, baik domestik maupun internasional,” katanya.

Didit menambahkan, gula premium diharapkan menjadi simbol kualitas dan inovasi. Sehingga memperkuat citra perusahaan berbasis tebu serta mengikis anggapan bahwa pabrik gula peninggalan Belanda yang masih dipandang belum mampu memproduksi gula dengan kualitas premium di mata konsumen dan mitra maupun regulator.

“Kedepan Perusahaan berharap bisa bersinergi dan mengembangkan kemitraan strategis dengan distributor gula, toko retail, UMKM, hingga pelaku industri kuliner dan semua konsumen setia kita yang membutuhkan gula berkualitas.

Dengan peluncuran ini, kami tidak hanya menghadirkan bibit unggul baru dan produk baru, tetapi juga membuka babak baru dalam perjalanan kami sebagai Perusahaan gula yang peduli akan mutu dan keberlanjutan. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H