Penulis Aming Naqsabandi

Kediri, tagarjatim.com – 25 jurnalis dari Kediri dan sekitarnya mengikuti Training Prebunking yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri. Kegiatan ini sebagai edukasi guna menangkal hoaks yang marak beredar.

Ketua AJI Kediri Danu Sukendro mengungkapkan bahwa hoaks masih menjadi ancaman terbesar di era digital
saat ini. Distribusi informasi yang tidak benar itu dengan cepat menyebar lewat platform sosial media, grup WhatsApp keluarga, dan situs-situs online.

Ia menyebut, sepanjang 2021, Kominfo telah memblokir sebanyak 565.449 situs yang menyebarkan hoaks. Untuk itu, salah satu upaya untuk membendung penyebaran hoaks adalah dengan melakukan debunking, yakni membongkar informasi tidak benar oleh berbagai kalangan yang bekerja di bidang pengecekan fakta.

“Selain debunking diperlukan juga prebunking, yaitu membongkar informasi tidak benar sebelum informasi itu keluar dan menyebar lebih luas,” jelasnya Minggu (25/2/2024).

Ia menambahkan, Pre-bunking merupakan salah satu taktik yang dapat dipakai sebagai upaya tindakan preventif
memerangi menyebarnya informasi tidak benar.

AJI Kediri, tambah dia, bekerjasama dengan Google News Initiative (GNI) menggelar Training Prebunking. Ada 25 jurnalis dari Kediri Raya, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Jombang yang ikut pelatihan tersebut. Mereka dibekali teori prebunking, misinformasi dari masa ke masa. Serta memetakan mis/disinformasi bertema politik untuk mengetahui anatomi manipulasi informasi dan cara membuat konten prebunking.

“Informasi simpang siur masih banyak berseliweran. Jumlahnya semakin meningkat pada saat pilpres dan pemilu. Menyebabkan publik tidak tahu mana informasi yang akurat dan yang disinformasi,” ungkap Danu.

Danu menjelaskan, maraknya produksi hoaks tidak lepas dari revolusi digital. Di Indonesia, pengguna internet mengalami lonjakan yang sangat tinggi. Data Hoisuite We Are Social pada 2023 menyebutkan, jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 212 juta. Atau 77 persen dari 276 juta penduduk Indonesia.

Sementara, pengguna media sosial mencapai 167 juta atau 67 persen dari penduduk Indonesia. “Di pelatihan ini, kami mengharapkan peran dari awak media di Kediri, Tulungagung, Jombang, Trenggalek, dan Blitar aktif untuk mencegah menyebarnya informasi palsu,” ucap Danu.

Program ini, ujar dia, bertujuan untuk membantu jurnalis menghasilkan jurnalisme berkualitas tinggi. Ada berbagai tools yang bisa digunakan untuk membantu jurnalis dalam memerangi misinformasi dan disinformasi.

Pelatihan ini diisi dua trainer yakni Andre Yuris dan Arsito Hidayatullah. Keduanya mengisi materi tentang memahami misinformasi dan disinformasi, teknik cek fakta, verifikasi informasi, fact-checking tools, dan terakhir adalah menyebarkan konten prebunking.

Menurut Arsito Hidayatullah, pelatihan prebunking ini diperlukan karena jurnalis bisa berperan aktif melakukan pencegahan terjadinya kesalahan informasi. “Pelatihan ini bukan lagi untuk memadamkan api tapi mencegah hoaks agar tidak menyebar luas,” jelasnya.

Dari training ini, dia berharap tersedia sarana bagi kalangan jurnalis untuk memahami materi prebunking untuk melawan mis-disinformasi. Kemudian mendorong jurnalis membuat konten prebunking di newsroom mereka. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H