Kabupaten Blitar, tagarjatim.id – Tradisi Manten Kopi Karanganyar, adalah ritual mempertemukan pengantin kopi laki laki dan pengantin kopi perempuan, sebagai tanda untuk memulai musim panen raya kopi, di lereng Gunung Kelud. Tradisi dimulai dengan mengarak pengantin kopi laki atau joko gondel, dan pengantin kopi perempuan atau sri gondel.

Kedua kopi pilihan lengkap dengan tangkainya ini, diarak keliling dari perkebunan menuju ke joglo. Iringan arak arakan juga disertai kesenian jaranan dan tabuhan gamelan jawa. Kedua pengantin kopi kemudian dipertemukan dan diserahkan ke pengelola perkebunan peninggalan jaman Belanda ini.

CEO perkebunan Kopi Karanganyar yang telah mendunia ini, Wima Brahmantya mengatakan tradisi ini digelar setiap tahun menandai panen raya.

“Kita mempertahankan tradisi yang sudah ada. Kan ini menyambut panen raya tetap dikemas dengan ritual adat kurang lebih 1 jam arak-arakan, dilanjutkan dengan ijab qobul dengan figur joko gondel dan sri gondel. Kemudian kopi yang telah terpilih dibawa ke joglo, diserahkan ke saya kemudian dilanjutkan hiburan,” ujar Wima kepada tagarjatim.id disela acara Minggu (15/6/25).

Kopi karanganyar mendunia, karena lokasi ini juga dimanfaatkan sebagai wahana wisata serta usaha kafe dengan sajian kopi dan aneka makanan. Banyak warga dari mancanegara, melakukan magang dilokasi ini untuk belajar mengenal kopi, tradisi dan buada lokal. Hampir setiap bulan, warga mancanegara ada di perkebunan Karanganyar tinggal dan berbaur dengan warga lokal. Wisatawan mancanegara ini juga turut mengikuti tradisi manten kopi, dengan pakaian adat jawa. Wima menambahkan, jika tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dari jaman kolonial. Artinya tradisi bisa jadi berusia lebih dari seabad, dan masih lestari hingga kini.

“Ritual adat dalam rangka menyambut panen raya kopi, sudah ada sejak jaman kolonial. Perkebunan ini sejak 1884,” imbuhnya.

Sementara terkait hasil produksi perkebunan kopi Karanganyar ini, sekitar 200 ton kopi robusta. Hasilnya untuk memenuhi kebutuhan perkopian nasional, yang semakin marak.

“Saat ini kita memenuhi pesanan nasional saja, ke depan mungkin untuk eskpor. Kalau ekspor itu sebenarnya agak berat ya, karena kapasitas harus banyak,” ujar Wima.

Sementara owner perkebunan Karanganyar, Hery Nugroho dikonfirmasi mengatakan, jika luasan perkebunan total kini 220 ha. Perkebunan kopi robusta ini berada di ketinggian 500 -600 mdpl, yang kini tinggal 20 persennya saja masih berupa perkebunan kopi. Sisanya kini sudah ditanami tebu dan lainya.

“Nanti kami akan usahakan kembali untuk menanam kopi di seluruh areal perkebunan. Bibitnya kami sediakan sendiri, saat ini bibit kopi kami juga telah diminta oleh perkebunan lain,”pungkas mantan bupati Blitar ini. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H