Tagarjatim.id -Takbir keliling menjadi salah satu tradisi yang meramaikan malam hari raya dalam Islam. Namun, jika pada Idul Fitri tradisi ini umum dilakukan secara meriah, berbeda halnya dengan malam Idul Adha. Di banyak daerah, takbir keliling pada Idul Adha tidak selalu diadakan.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya, antara lain sebagai berikut:

Pertama, fokus utama Idul Adha adalah Ibadah kurban. Esensi Idul Adha terletak pada penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Maka, perhatian masyarakat lebih tertuju pada persiapan hewan kurban dan pelaksanaannya di pagi hari, bukan pada takbir keliling malam sebelumnya.

Kedua, pertimbangan keamanan dan ketertiban menjadi alasan penting. Takbir keliling, terutama jika dilakukan dengan kendaraan dalam jumlah besar, berpotensi menimbulkan kemacetan, kebisingan, atau bahkan insiden di jalan. Karena itu, sebagian pemerintah daerah atau aparat kepolisian mengimbau agar takbir dilakukan di masjid atau musala.

Ketiga, kebijakan ulama dan pemerintah setempat juga berpengaruh. Beberapa daerah memang menganjurkan agar takbir cukup dikumandangkan secara berjamaah di tempat ibadah, tanpa harus melakukan pawai keliling. Hal ini demi menjaga kekhusyukan malam Idul Adha dan meminimalisir potensi gangguan.

Dan terakhir, masyarakat yang terlibat dalam panitia kurban juga membutuhkan waktu istirahat dan persiapan. Karena proses penyembelihan dimulai pagi hari, sebagian besar warga lebih memilih untuk mempersiapkan logistik dan tenaga dibanding mengikuti takbir keliling.

Meski takbir keliling tidak selalu dilaksanakan, semangat mengagungkan nama Allah tetap bisa dijalankan dengan takbir di rumah, masjid, atau melalui media digital. Yang terpenting adalah makna dan kekhusyukan dalam menyambut hari raya kurban dengan hati yang ikhlas dan penuh syukur.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H