Kota Batu, Tagarjatim.id – Petani cabai besar di Kota Batu, tengah menghadapi masa sulit. Cuaca buruk yang melanda wilayah pegunungan ini menyebabkan hasil panen cabai menurun drastis. Ironisnya, meski produksi turun, harga jual cabai di tingkat petani justru ikut anjlok.
Dalam sebulan terakhir, hujan deras disertai kabut tebal kerap melanda kawasan pertanian di Kecamatan Bumiaji dan Junrejo, yang dikenal sebagai sentra cabai besar di Kota Batu. Kondisi tersebut memicu serangan jamur dan pembusukan pada tanaman cabai, sehingga panen gagal atau hasilnya tidak layak jual.
“Cabai banyak yang busuk di pohon. Yang bisa dipanen pun kulitnya jelek dan cepat layu,” ujar Sutikno (47), petani cabai di Dusun Junggo, Kecamatan Bumiaji, Sabtu (31/5/2025).
Menurutnya, dalam kondisi normal satu hektare lahan bisa menghasilkan hingga 10 ton cabai. Namun akibat cuaca buruk, hasil panen hanya berkisar 4 hingga 5 ton.
Kerugian makin terasa karena harga jual cabai besar di tingkat petani kini turun drastis, hanya sekitar Rp7.000 per kilogram, jauh di bawah harga ideal yang berada di kisaran Rp15.000–Rp18.000 per kilogram.
“Biasanya kalau panen sedikit, harga naik. Tapi ini malah murah. Karena kualitasnya jelek, pengepul banyak yang nolak,” tambahnya.
Petani lainnya, Tatik (47), juga mengaku rugi besar. Ia mengatakan sudah mengeluarkan biaya lebih untuk perawatan tanaman di musim hujan, namun hasilnya tetap tidak memuaskan.
“Kami sudah pakai obat anti-jamur, tambah pupuk, tapi tetap kalah sama cuaca. Lahannya becek, susah disemprot. Padahal modalnya besar, sekarang malah buntung,” ujarnya.
Sementara itu, BMKG Karangploso memperkirakan curah hujan tinggi masih akan terjadi hingga pertengahan Juni 2025, dan mengimbau petani untuk menunda masa tanam ulang hingga kondisi lebih stabil.
Dengan cuaca yang belum menentu dan harga jual yang tak berpihak, petani di Kota Batu berharap ada solusi cepat dari pemerintah agar mereka bisa tetap bertahan dan menanam kembali.(*)




















