Kabupaten Malang, tagarjatim.id – Ubi merupakan salah satu makanan tradisional yang banyak digemari di Indonesia, khususnya di daerah Gunung Kawi. Selain sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi, ubi juga dikenal kaya akan nutrisi dan memiliki banyak variasi, seperti ubi ungu dan ubi kuning. Namun, perbedaan antara kedua jenis ubi ini sering kali membingungkan, terutama dari segi rasa dan kualitas.
Menurut Ngatinah, Seorang penjual oleh-oleh ubi penduduk lokal dari Gunung Kawi ini, perbedaan paling menonjol antara ubi ungu,ubi kuning, dan ubi oren adalah pada rasa manisnya.
“Kalau yang ubi ungu memang nggak bisa manis, walaupun sampai kering juga nggak manis,” ucap wanita 64 tahun itu.
Hal ini menunjukkan bahwa ubi ungu secara alami memiliki kadar gula yang lebih rendah dibandingkan ubi kuning. Sebaliknya, ubi kuning atau ubi oranye dikenal memiliki rasa manis yang alami dan lebih disukai.
“Manis, kalau kuning itu seperti ubi yang dijual masak (matang), yang biasa dijual di jalan itu yang direbus,” katanya.
Ubi asli dari Gunung Kawi memang dikenal memiliki kualitas terbaik. Hal ini dikarenakan kondisi tanah di sana yang subur dan kaya akan mineral, cuaca yang dingin. berbeda dengan daerah lain karena tanah di Gunung Kawi berjenis tanah pasir.
“Yang enak itu paling enak ubi dari Gunung Kawi. Ubi itu banyak aja di daerah bawah, tapi hasilnya kurang manis, karena beda tanah. Kalau sini tanahnya tanah pasir,” ujarnya.
Selain ubi, Ngatinah juga menjual pisang khas seperti; pisang agung dan pisang candi, pisang berlin,ambon, dan pisang emas. Pisang barlin, ambon, dan pisang emas adalah pisang jenis buah, yang hanya bisa dinikmati secara langsung.
“Kalo pisang ada pisang berlin, ada pisang emas, ada pisang ambon itu pisang buah cuma bisa dimakan langsung, Tapi kalo pisang agung sama pisang candi itu harus dikukus atau di goreng gitu”, jelasnya.
Ketika ditanya soal hari-hari ramai pembeli, Ngatinah menjelaskan, “Ya Hari Jumat manis (Jumat Legi), Kamis malam Jumat Legi, sama Hari Minggu itu rame, pembelinya banyak. Kalau hari-hari biasa di sini sepi, sekarang lain kaya dulu,” Ia mengungkapkan bahwa dulu tempat disana selalu ramai, terutama saat Hari-hari besar.
Meski pengunjung tak seramai dulu, Ngatinah tetap semangat berjualan. Pembelinya datang dari kalangan lokal maupun luar kota.
“Ya lokal ada, pengunjung ada. Kalo pengunjung ada dari Surabaya, ada dari Malang, Jawa Tengah,” tambahnya, ketika ditemui pada Hari Sabtu (24/5/2035).
Ngatinah adalah contoh pelaku usaha kecil yang tetap setia menjaga cita rasa dan kualitas produk lokal. Di tengah sepinya arus wisata, semangatnya menjajakan ubi dan pisang khas Gunung Kawi menjadi bagian penting dalam mempertahankan identitas oleh-oleh daerah tersebut.(*)




















