Tagarjatim.id – Waisak merupakan hari suci bagi umat agama Buddha. Menurut buku Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasati (2012) yang ditulis oleh Boechari, di beberapa negara, Hari Waisak juga dikenal sebagai Hari Buddha. Tahun ini, Hari Raya Waisak 2569 Buddhist Era (BE) jatuh pada Hari Senin, 12 Mei 2025.
Momen sakral ini, umumnya bertepatan pada bulan Mei setiap tahun atau tepat ketika terjadi bulan purnama. Waisak merupakan perayaan tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha.
Sejarah Perayaan Waisak
Hari Raya Waisak bertujuan memperingati Guru Agung bernama Siddharta Gautama. Seorang guru spiritual yang lahir di wilayah Lumbini, Timur Laut India pada tahun 623 SM. Dilahirkan sebagai seorang pangeran dari Kerajaan Kapilavastu, membuatnya tak luput dari kemewahan dan gemerlap istana.
Di usia 29 tahun, Siddharta Gautama meyakini kemewahan dan kekayaan tidak akan menjamin kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Ia memilih meninggalkan kehidupan duniawi dan mulai mencari makna kehidupan yang sebenarnya.
Diperjalanannya, Siddharta Gautama mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, yang hingga saat ini menjadi tempat suci bagi umat Buddha di India. Ia dikenal hidup sebagai seorang tunawisma yang giat mempelajari meditasi hingga sekitar enam tahun lamanya.
Selama perjalanan tersebut, Buddha Gautama mempraktikkan kehidupan asketis, yang artinya hidup tanpa kenikmatan duniawi agar mendapat keuntungan spiritual.
Setelah mencapai penerangan agung, Buddha Gautama mengajarkan jalan menuju pembebasan diri dari penderitaan, mengatasi nafsu, dan kebebasan dari ketidaktauan. Sang Buddha menyebarkan ajarannya melalui khotbah pertamanya di Taman Rusa, Sarnath, yang dikenal dengan istilah “Pemutaran Roda Dharma” (Dhammacakkappavattana).
Pada tahun 1950, Sri Lanka mengadakan konferensi pertama tentang Persekurua Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists) disinilah awal penetapan Waisak sebagai hari perayaan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha di berbagai negara.
Makna Tri Suci Waisak
Bukan hanya sekedar perayaan bagi umat Buddha, Hari Raya Waisak juga dianggap sebagai momentum penuh makna dan suci. Dalam perayaannya ada tiga peristiwa suci yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak. Simak apa saja dan makna di balik ketiga peristiwa tersebut.
1. Lahirnya Pangeran Siddharta
Pangeran Siddharta merupakan putra dari Raja Suddhodana dan Permaisuri Ratu Mahamaya. Lahirkan di Taman Lumbini pada 623 SM sebagai seorang calon Buddha yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi atau disebut Bodhasatva, dalam keadaan bersih tanpa noda, dapat berdiri tegak, dan langsung bisa berjalan.
2. Pangeran Siddharta Mencapai Penerangan Agung
Di usia ke 35 tahun, Siddharta Gautama mendapatkan penerangan agung, tepatnya pada tahun 588 SM. Setelahnya, Siddharta Gautama mendapat gelar Buddha di Bodh Gaya di saat bulan Waisak tepatnya pada Purnama Sidhi.
3. Wafatnya Buddha Gautama
Pada tahun 543 SM, di usia ke-80 tahun, Buddha Gautama menghembuskan napas terakhir. Setiap makhluk yang menjadi pengikutnya bersujud sebagai bentuk penghormatan terakhir kepasa Sang Buddha. Ia wafat tepat pada bulan purnama di bulan Waisak.
Ketiga peristiwa di atas, terjadi dalam momen yang sama, yaitu pada Bulan Waisak saat Purnama Sidhi. Hal ini menjadi kesan yang sakral dan suci pada perayaan Hari Raya Waisak bagi seluruh umat Buddha di dunia. (*)




















