Kota Surabaya, tagarjatim.id – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) resmi meluncurkan Standard Operating Procedure (SOP) Berthing Priority dalam rangka meningkatkan efisiensi layanan operasional kapal curah kering.

Langkah ini menggantikan sistem lama yang menggunakan metode First In First Out (FIFO) atau First In First Serve, yang dinilai tidak lagi mampu menjawab kebutuhan operasional yang semakin dinamis.

Penandatanganan SOP tersebut dilakukan oleh Kepala KSOP Utama Tanjung Perak Surabaya Agustinus Maun, Division Head Operasi Regional 3 Johanes Wahyu, dan Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong David Pandapotan Sirait.

Sistem ini mengatur jadwal tambat kapal berdasarkan pemesanan (booking) yang dilakukan oleh pemilik kargo atau agen pengapalan, baik sebelum maupun sesudah kapal berangkat dari pelabuhan muat.

Dengan sistem Berthing Priority, kapal mendapatkan kepastian jadwal tambat secara transparan, efektif, dan efisien. Hal ini memungkinkan proses bongkar muat di TTL berjalan lebih cepat dan terorganisir. Tak hanya mempermudah koordinasi, sistem ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pengguna jasa.

“SOP ini sangat agile dan efektif. Inovasi seperti ini perlu terus dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk nasional sekaligus memperkuat sistem logistik Indonesia,” ujar KSOP Utama Tanjung Perak Surabaya, Agustinus, Sabtu (3/5/2025).

Sebelum resmi diluncurkan, TTL telah melakukan uji coba sistem Berthing Priority sejak Oktober 2024. Hasilnya cukup signifikan, waktu tunggu tambat kapal yang sebelumnya mencapai rata-rata 8,9 hari, berhasil ditekan hingga tinggal 1,6 hari untuk penjadwalan tambat Mei 2025.

Manfaat sistem ini dirasakan langsung oleh para pengguna jasa. Selain mempercepat proses bongkar muat, mereka juga memperoleh keuntungan berupa pengurangan resiko denda demurrage, efisiensi bahan bakar akibat pengaturan kecepatan pelayaran, serta potensi mendapatkan insentif dispatch dari penyewa kapal.

Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, menegaskan bahwa sistem ini mencerminkan komitmen TTL dalam memberikan layanan unggul.

“Melalui sistem Berthing Priority, kapal curah kering di terminal kami mendapatkan kepastian waktu bongkar muat secara efisien dan transparan,” ungkapnya.

Untuk mendukung sistem ini, TTL telah melengkapi dermaga curah kering sepanjang 250 meter dengan peralatan modern seperti dua unit Grab Ship Unloader (GSU), empat unit excavator, dua unit wheel loader, dan sistem conveyor otomatis yang langsung terhubung ke gudang penyimpanan.

Sengan kedalaman kolam -14 meter LWS dan kapasitas bongkar hingga 4.000 ton per jam, fasilitas ini siap mempercepat proses bongkar muat dan mendukung target efisiensi nasional. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H