Kabupaten Sidoarjo, tagarjatim.id – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mulai mengambil langkah tegas dalam mengatasi persoalan banjir di kawasan timur.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membongkar puluhan bangunan liar (bangli) yang berdiri di atas saluran air di Desa Gemurung, Kecamatan Gedangan.

Penertiban ini memicu berbagai reaksi warga, terutama para pedagang yang menggantungkan hidup dari lokasi tersebut.

Sebanyak 22 bangli menjadi sasaran penertiban. Sebagian besar sudah dibongkar secara sukarela oleh pemiliknya.

Namun masih ada sembilan bangunan yang belum tersentuh karena masih ditinggali.

Pembongkaran dilakukan mulai Selasa (29/4/2025) oleh petugas gabungan dari Satpol PP dan TNI-Polri.

“Jumlah banglinya ada 22, sekarang sisa 9 yang belum dibongkar karena masih ada penghuninya. Hari ini kita tertibkan yang sudah dibongkar mandiri. Ada yang bongkar sendiri, ada juga yang sempat minta ganti rugi, tapi kami tidak punya anggaran untuk itu,” ujar Kepala Satpol PP Kabupaten Sidoarjo, Yany Setyawan.

Menurut Yany, keberadaan bangunan-bangunan tersebut telah lama menjadi penghambat utama program normalisasi saluran air. Selama bangli belum dibongkar, air dari kawasan pemukiman tidak dapat mengalir dengan lancar, menyebabkan banjir musiman.

“Ini kan lahan saluran air. Selama bangunan masih berdiri, normalisasi nggak bisa dilakukan. Akibatnya air dari perumahan sekitar nggak bisa mengalir, jadi banjir,” jelasnya.

Penertiban ini merupakan program lintas sektor yang juga melibatkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Sumber Daya Air (SDA).

Kepala Dinas PU Sidoarjo, Dwi Eko Saptono, menyebut pembongkaran harus dilakukan lebih dulu sebelum pengerukan dan pembersihan saluran bisa dimulai.

“Penertiban ini kita lakukan karena memang bangunan berdiri di atas saluran. Tahun ini kami belum sempat bersihkan salurannya, makanya kita ajukan izin ke bupati untuk penertiban ini. Targetnya dua hari pembongkaran, lalu dilanjutkan dengan normalisasi,” ucapnya.

Namun bagi warga yang menggantungkan hidup di lokasi tersebut, keputusan pembongkaran ini meninggalkan luka. Mahkur (40), penjual nasi bebek, mengaku tak menyangka bangunannya akan digusur secepat itu. Ia berharap ada solusi agar tetap bisa berjualan.

“Kami ini cari nafkah buat keluarga. Anak masih tiga sekolah. Harapan kami bisa dikasih tempat relokasi untuk tetap bisa jualan,” tutur Mahkur dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada juga dirasakan Sulaiman (38), pedagang minuman yang menempati salah satu bangli yang ikut dibongkar. Menurutnya, informasi pembongkaran memang sudah disampaikan, tetapi waktunya dianggap terlalu mendadak.

“Kami cukup sedih karena bedak yang saya tempati ini merupakan satu-satunya penghasilan utama buat keluarga,” kata Sulaiman lirih.

Kini, setelah bangunan mulai rata dengan tanah, warga hanya bisa berharap agar pemerintah tidak hanya tegas menertibkan, tetapi juga hadir memberikan solusi. Harapan besar tertuju pada kemungkinan relokasi atau tempat usaha baru agar roda ekonomi mereka bisa kembali berputar. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H