Tagarjatim.id- Donald Trump menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Kota Vatikan pada 26 April 2025, bersama dengan lebih dari 160 delegasi dari berbagai Negara dan Organisasi Internasional. Trump tiba bersama istrinya, Melania Trump, sebagai tamu terakhir dalam Upacara tersebut. Prosesi pemakaman Paus Fransiskus berlangsung di Alun-alun Santo Petrus, dan kemudian dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Kota Roma.
Trump berada di barisan depan bersama pemimpin dunia lainnya, seperti Presiden Jokowi dan Presiden Zelensky. Ia menuai sorotan tajam karena mengenakan jas berwarna biru, alih-alih seperti yang lain mengenakan pakaian hitam yang lebih sesuai dengan suasana berkabung.
Donald Trump mengenakan jas biru di pemakaman Paus Fransiskus karena ia memilih untuk menampilkan identitas dirinya sendiri, meskipun itu berarti tidak mengikuti protokol berpakaian yang diharapkan oleh Vatikan. Menurut protokol, pria diharapkan mengenakan jas berwarna gelap dengan dasi hitam panjang dan kancing berwarna sama untuk acara pemakaman Paus.
Beberapa kemungkinan alasan Trump memilih jas biru adalah:
– Identitas pribadi: Trump mungkin ingin menunjukkan kepribadiannya melalui pilihan pakaian, yang berbeda dari Norma yang diharapkan.
– Kurangnya perhatian pada protokol: Trump mungkin tidak terlalu memperhatikan atau tidak setuju dengan protokol berpakaian yang ditetapkan oleh Vatikan.
– Perbedaan budaya: Trump sebagai pemimpin Amerika mungkin memiliki standar berpakaian yang berbeda dengan tradisi Vatikan.
Namun, perlu diingat bahwa pilihan pakaian Trump ini memicu perdebatan dan kritik di kalangan pengamat, terutama karena tidak sesuai dengan harapan protokol. Trump juga disebut seharusnya tidak duduk di barisan terdepan.
Presiden AS Donald Trump disebut-sebut seharusnya tidak duduk di barisan paling depan dalam prosesi pemakaman Paus Fransiskus. Perombakan posisi tempat duduk itu dilakukan oleh protokol Vatikan pada menit-menit terakhir sebelum prosesi.
Dilansir dari Telegraph, Jumat (25/4/2025), protokol Vatikan menunjukkan bahwa Trump tidak akan berada di barisan depan.
Ada beberapa alasan mengapa Donald Trump mungkin tidak seharusnya duduk di barisan paling depan di pemakaman Paus Fransiskus, yaitu:
– Agama: Sebagai seorang non-Katolik, Trump mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan Paus Fransiskus atau Gereja Katolik yang sama dengan para pemimpin Katolik lainnya.
– Protokol: Barisan paling depan biasanya disediakan untuk para pemimpin negara dan pejabat tinggi yang memiliki hubungan dekat dengan almarhum atau memiliki peran penting dalam acara tersebut.
– Penghormatan: Duduk di barisan paling depan dapat diartikan sebagai tanda penghormatan dan pengakuan atas hubungan yang erat dengan almarhum. Trump mungkin tidak memiliki hubungan yang sama erat dengan Paus Fransiskus seperti para pemimpin Katolik lainnya.
Ketika delegasi dari sekitar 130 negara menuju ke Roma untuk menghadiri pemakaman, rincian pengaturan tempat duduk mulai bermunculan dan Trump disebut berada di barisan ketiga.
Para pejabat asing duduk di satu area blok salah satu sisi peti mati Paus Fransiskus, sementara para uskup agung, uskup, uskup besar, dan kardinal duduk di area blok seberang mereka.
Takhta Suci mendahulukan bangsawan Katolik, yang akan mendapat tempat terhormat di barisan depan tempat duduk.
Namun, perlu diingat bahwa keputusan tentang siapa yang duduk di barisan paling depan biasanya dibuat oleh penyelenggara acara atau pihak Vatikan, dan mungkin ada alasan tertentu mengapa Trump diizinkan duduk di sana.(*)




















