Kota Batu, tagarjatim.id – Wahana Pendulum 360° di Jatim Park 1 Kota Batu, memakan korban. Seorang pelajar berusia 13 tahun bernama Rafandiaz Putra Atmadie asal Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang terpental dan terjatuh dari wahana tersebut.
Akibat peristiwa itu, korban mengalami luka berat yakni patah tulang kering pada kaki bagian kanan dan patah tulang jari tengah pada tangan bagian kanan. Peristiwa ini diketahui terjadi pada Selasa, 8 April 2025 lalu dan baru mencuat viral di media sosial pada Kamis, 17 April 2025.
Dalam video amatir yang beredar, memperlihatkan detik-detik awal mula korban terpental dan terjatuh dari wahana Pendulum. Para pengunjung nampak berteriak histeris melihat peristiwa tersebut.
Saat ditemui di kediamannya pada Jumat (18/4/25) siang, korban membenarkan hal itu. Dikatakannya bahwa pada hari itu, dirinya bersama kakak kandungnya, guru lesnya dan teman kakaknya berlibur ke Jatim Park 1 menggunakan sepeda motor.
Sebelum menaiki wahana 360° PENDULUM, rombongannya menunggu di area bioskop karena hujan. Setelah hujan reda, dia menuju wahana tersebut sekira pukul 16.00 WIB.
“Di pendulum itu awalnya antri dulu, antri itu juga enggak apa-apa. Setelah selesai giliran antrian saya, saya masuk,” katanya.
Kemudian, Dia duduk di wahana tersebut dan operator memasangkan pengaman pada bagian dada. Dikatakannya, operator wahana sudah keliling satu kali untuk mengecek pengaman seluruh pengunjung yang duduk.
“Setelah itu, operator menyalakan wahana, itu kayak yang seatbelt dada ini, itu sistemnya hidrolik atau angin gitu mas. Jadi dipasang angin, nanti nutup semua, giliran sudah, dicabut anginnya,” katanya.
Saat itu, dirinya sudah merasa aman karena pengaman wahana permainan tersebut menekan tubuhnya. Awalnya, wahana permainan tersebut berjalan normal hingga memutar 360 derajat sebanyak tiga kali.
Tak disangka, seingatnya pada saat putaran keempat atau kelima, pengaman yang melekat di tubuhnya terlepas pada saat ketinggian sekitar lebih dari 10 meter.
Kemudian, Ia panik dengan reflek pegangan sesuatu bergelantungan yang dapat sedikit mempertahankan kondisi tubuhnya ditengah berjalannya wahana tersebut.
“Setelah saya jatuh, operatornya lari, bilang gini mas, tandu, tandu, tandu. Setelah itu banyak orang yang datang, datang buat nolongin ditandu, awalnya ke P3K dulu, dicek sama mbak-mbaknya. Mungkin mbaknya sudah tahu kondisinya patah, soalnya ini mas, kaki kalau normal itu harusnya kan lurus ke atas, ini bisa ke kanan kiri,” katanya.
Selanjutnya, korban dibawa ke Rumah Sakit (RS) Baptis, Kota Batu. Hasil rontgen diketahui kaki kanannya pada bagian tulang kering dan belakang patah. Kemudian, RDP dibawa ke RS Persada Hospital, Kota Malang untuk mendapat perawatan intensif, dan baru diketahui saat itu jari tengah tangan kanannya juga patah.
Satu hari setelah kejadian tersebut, korban menjalani operasi pada Rabu (9/4/2025), siang selama satu jam. Dia menjalani rawat inap di RS hingga Sabtu (12/4/2025) dan saat ini sedang rawat jalan di rumahnya.
“Kalau penyembuhan dari dokter, yang tangan ini dua minggu setelah dioperasi itu boleh dilepas mas. Cuma kondisinya belum yang benar-benar nyambung. Katanya itu dua bulan baru benar-benar nyambung tanpa ada bekas kayak patah gitu mas,” katanya.
“Kalau yang kaki ini, tiga minggu setelah operasi dipotong gipsnya mas sampai lutut sini. Terus tiga minggu selanjutnya, satu setengah bulan setelah operasi baru lepas semua gipsnya,” sambungnya.(*)




















