Kabupaten Sidoarjo, tagarjatim.id – Industri alas kaki dalam negeri kembali menjadi sorotan Komisi VII DPR RI. Dalam kunjungan kerja ke Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo pada Senin (14/4/2025), Komisi VII mendorong penguatan inovasi, perluasan pasar lokal, serta pengembangan sepatu berbahan ramah lingkungan.

Rombongan dipimpin oleh Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dan didampingi oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Ir. Reni Yanita. Mereka berdiskusi langsung dengan pengelola BPIPI serta pelaku industri, membahas berbagai tantangan dan potensi sektor persepatuan nasional.

Ir. Reni Yanita menyampaikan bahwa industri sepatu Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan positif. Dukungan pemerintah dan kualitas produksi yang makin baik telah membawa produk alas kaki Tanah Air bersaing di pasar ekspor.

“Ekspor kita sudah menembus Amerika, Jerman, dan beberapa negara lainnya. Tapi untuk terus maju, inovasi harus dikedepankan,” ujarnya.

Namun demikian, Komisi VII melihat bahwa potensi besar sesungguhnya juga berada di pasar dalam negeri. Rahayu Saraswati menekankan pentingnya BPIPI menggali tantangan nyata di lapangan, mulai dari bahan baku hingga strategi memperkuat distribusi produk lokal.

Ia juga mendorong pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan alternatif, khususnya untuk bagian sol sepatu. Menurutnya, pendekatan ini sudah diimplementasikan di beberapa daerah, seperti Bali, dan bisa menjadi peluang besar bagi industri kreatif.

“Pemanfaatan plastik daur ulang sangat mungkin dilakukan dalam industri sepatu. Ini bisa menjadi solusi lingkungan sekaligus nilai tambah bagi produk lokal,” ucapnya.

Sementara itu, Banyu Biru Djarot dari Fraksi PDI Perjuangan menyoroti minimnya akses sepatu di kalangan masyarakat miskin, terutama anak-anak sekolah di pelosok negeri. Ia menilai ini sebagai peluang sekaligus tantangan bagi pelaku industri dalam negeri.

“Kita punya pasar lokal yang besar. Jangan sampai anak-anak Indonesia tidak punya sepatu karena harga yang tidak terjangkau. Industri daerah harus bisa menjangkau segmen ini tanpa mematok harga tinggi,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pasar lokal tidak selalu mementingkan merek, melainkan lebih mengutamakan fungsi dan harga yang sesuai kantong masyarakat.

Menambahkan pandangan tersebut, anggota Komisi VII lainnya, Samuel JD Wattimena, menilai bahwa aspek desain fesyen belum tergarap maksimal oleh BPIPI. Ia menyebut keterlibatan fashion designer sangat krusial untuk meningkatkan daya saing dan daya tarik produk alas kaki Indonesia.

“Produk yang kuat tidak hanya soal fungsi, tapi juga selera pasar. Sentuhan fashion designer harus jadi bagian penting dari proses pengembangan produk,” kata Samuel. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H