Penulis : Dixs Fibriant

Malang, tagarjatim.com – Pasca peristiwa kekerasan dalam rumah tangga (Kdrt) yang dilakukan suami terhadap istrinya di Perumahan Bumi Mondoroko, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, membuat warga menyimpan kesedihan mendalam. DMM alias Y (40) yang dikenal jarang bergaul dengan warga tersebut diduga tega melakukan KDRT dengan cara memaksa istrinya Dayang Santi (40) menenggak cairan pembersih lantai kamar mandi, hingga akhirnya meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Kasus dugaan pembunuhan tersebut terungkap berawal dari warga yang melihat anak ke 2 korban berinisial YA (5) menangis sesenggukan bersandar di pojokan pintu rumahnya. Balita tak berdosa tersebut harus menanggung beban penderitaan ibunya akibat perbuatan ayahnya.

Saat menangis, YA terlihat dalam kondisi bingung, entah dirinya harus meminta bantuan kepada siapa, setelah melihat ibunya tak berdaya di kamar tidur dengan mulut berbusa dan terus muntah – muntah, sembari sang balita itu juga ikut membersihkan muntahan ibunya di lantai dan pakaian ibunya sesekali mengusap busa racun pembersih lantai yang terus menerus keluar dari mulut ibu tercintanya.

Tak tega melihat kondisi ibunya, YA pun berinisiatif ingin menolong nyawa ibunya dengan memberikan air minum kepada ibunya. Diduga air minum dirumahnya habis, sehingga dia terpaksa harus meminta ke tetangganya, dengan harapan ibunya segera mendapat pertolongan.

YA kemudian lari ke rumah tetangganya berinisial D untuk meminta air minum tanpa menceritakan kondisi ibunya yang sekarat. Ironisnya, upaya YA meminta segelas air minum tidak ditanggapi oleh tetangganya, bahkan dikira bercanda. Sehingga tetangganya juga tidak memberikan air minum kepada YA.

D tidak mengira jika YA meminta air minum untuk menolong nyawa ibunya yang akan dijemput malaikat maut. “Waktu itu saya melihat YA menangis di depan rumahnya terus saya tanya kenapa menangis, selanjutnya YA lari minta air minum ke saya, saya bilang nggak ada. Saya tidak mengira jika air minum itu untuk ibunya,”kata D kepada wartawan.

Tidak mendapatkan air minum, YA kemudian lari ke tetangga lainnya untuk meminta air minum. Dia kemudian menceritakan meminta air minum untuk menolong ibunya yang keracunan.

“YA lari ke Pak Edi minta air minum dan bilang mamanya minum racun, karena memang YA setiap hari bermain di rumah Pak Edi. Bahkan Ibunya (korban, red) saat itu juga sempat telpon ke Bu Edi minta air minum,”ungkapnya.

Setelah mendapatkan kabar mengejutkan, kata D, akhirnya Pak Edi dan Bu Edi mengajak dirinya untuk masuk ke dalam rumah korban.”Saat kami melihat saat itu mulutnya mengeluarkan busa, dan kondisinya sudah lemas,”katanya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari warga, pada saat kondisi korban lemas, warga berusaha menelepon DMM tapi tidak bisa, hingga akhirnya warga memutuskan untuk membawa korban ke Puskesmas Singosari, tapi ditolak dengan alasan tidak ada keluarga yang bertanggung jawab.

Gagal mendapat pertolongan Puskesmas, korban dibawa pulang kembali ke rumahnya, selanjutnya kondisi korban semakin parah, hingga pada malam hari korban dibawa warga ke Rumah Sakit Marsudi Waluyo.

Menurut Ketua RT 4 RW 15, Ali Masyudi, pada saat korban dibawa ke rumah sakit korban masih sadar, bahkan korban meminta untuk dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Karena kondisi korban lemas, akhirnya korban dibawa ke rumah sakit terdekat Marsudi Waluyo.

“Waktu di dalam mobil korban muntah-muntah terus dan sempat meminta agar dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Saya bilang Bu Santi kondisinya sudah lemas, dan akhirnya kami bertiga membawa ke Rumah Sakit Marsudi Waluyo. Setelah mendapat perawatan korban meninggal dunia,” kata Ali Masyudi.

Mengetahui korban meninggal, warga akhirnya pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB memutuskan untuk melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Singosari.

Setelah mendapat laporan warga polisi pun langsung melakukan penyelidikan dan olah TKP serta membawa jasad korban ke Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang untuk diautopsi.

Kasatreskrim Polres Malang AKP Gandha Syah menyatakan pihaknya saat ini masih melakukan penyidikan terhadap 4 orang saksi termasuk suami korban. Penyidik juga masih menunggu hasil autopsi korban.

“Saat ini kita masih proses penyidikan terhadap 4 orang saksi. Belum ada penetapan tersangka, kita juga masih menunggu hasil autopsi dari rumah sakit sebagai alat bukti. Doakan semoga segera bisa kita ungkap,” ujarnya, kepada wartawan, Jumat (26/1/2024).

Dia menambahkan untuk mengungkap kasus ini, pihaknya juga meminta keterangan salah satu anak korban yang berusia 5 tahun. Anak korban tersebut merupakan saksi kunci untuk mengungkap kasus KDRT yang diduga dilakukan ayahnya kepada ibunya.

“Untuk saksi saat kejadian itu ada, satu saksi yaitu anak dari korban. Korban suami istri dan ada tiga orang dan saksinya si anak ini juga melihat berusia lima tahun yang di lokasi kejadian. Kemudian tetangganya ada juga kebetulan yang melaporkan,” pungkasnya. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H