Kota Malang, tagarjatim.id – Kelompok Puisi Kata Pengantar (KPKP) meenggelar vent khusus untuk merayakan ulang tahun pertamanya lewat buah cara bertajuk “Pasar Puisi”.

Konsepnya tak hanya sekadar menyajikan puisi dalam bentuk tradisional, tetapi juga membuka ruang bagi eksperimen dan interpretasi bebas.

Puisi bagi sebagian orang hanya terlihat seperti deretan kata yang penuh makna, ditulis dengan rapi dan terstruktur.

Namun, bagi KPKP (Kelompok Puisi Kata Pengantar), puisi bisa lebih dari itu, puisi adalah segala yang mungkin. Dengan semangat inilah, acara ini terealisasi.

KPKP mencoba menjembatani kesenjangan antara puisi dan masyarakat luas. Acara yang digelar pada tanggal 1-2 Februari 2025 ini bukan hanya sebagai ajang penghargaan untuk para penyuka puisi, tetapi juga sebagai ruang bagi siapa saja yang ingin terlibat dalam ekspresi puisi tanpa batas.

Dengan tema “Segala yang Mungkin”, KPKP mendorong orang untuk melihat puisi sebagai sesuatu yang dapat dieksplorasi dengan bebas, tanpa harus terikat pada norma atau aturan yang ketat.

Kehadiran acara ini tak lepas dari visi yang dibangun oleh Azha Ayu Eprilia dan Danny Rizky, dua sosok di balik inisiasi KPKP.

Mereka bersama dengan Iqbal dan Michael Jayadi percaya bahwa puisi tidak harus selalu berwujud teks yang padat dengan makna. Sebaliknya, puisi bisa menjadi ekspresi yang cair dan terbuka untuk berbagai interpretasi.

“Kami ingin puisi bukan hanya milik penyair, tetapi bisa dinikmati siapa saja,” ujar Azha, menjelaskan semangat dasar KPKP, Sabtu (1/2/25).

Menembus Batas Melalui Puisi Lima Indera

Salah satu konsep unik yang dihadirkan dalam “Pasar Puisi” adalah “Puisi Lima Indera”. Alih-alih sekadar mendengarkan atau membaca puisi, pengunjung diajak untuk merasakan puisi lewat indera mereka. Karya-karya yang dipamerkan dalam acara ini tidak hanya tercetak pada kertas, tetapi juga diekspresikan dalam berbagai media—mulai dari kalkir hingga kalender kosong.

Format seperti ini mengajak penikmat puisi untuk merasakan karya lewat tekstur, warna, dan bentuk, mengaburkan batas antara teks dan seni visual.

“Dalam puisi Lima Indera, kami ingin menunjukkan bahwa puisi itu bisa hadir dalam berbagai bentuk, bukan hanya tulisan di kertas. Kami ingin orang merasa terlibat dalam puisi dengan cara yang lebih sensori,” tambah Azha.

Di sinilah letak kekuatan KPKP. Mereka menolak anggapan bahwa puisi adalah dunia yang terpisah dan eksklusif, hanya bisa dinikmati oleh mereka yang ahli dalam sastra. Sebaliknya, mereka percaya bahwa puisi adalah bentuk seni yang dapat dijangkau oleh siapa saja, tanpa harus menjadi seorang penyair profesional.

Antusias pengunjung pasar puisi kpkp
Pasar Puisi KPKP yang diadakan di Astaloka, 1-2 Februari 2025 (Foto: Anam/tagarjatim.id)

Meraikan Puisi, Meraikan Kebebasan Ekspresi

“Pasar Puisi” bukan sekadar tentang menyajikan puisi, melainkan juga tentang memberi ruang bagi orang untuk bereksperimen. Di sini, puisi bukan sekadar dikutip atau dibaca dengan serius, tetapi bisa dimainkan, digoyang, dan dieksplorasi dalam berbagai bentuk yang tidak terduga. Konsep ini mengingatkan kita bahwa seni, termasuk puisi, adalah sarana untuk berkreasi, berimajinasi, dan berekspresi secara bebas.

Bagi Danny Rizky, salah satu pendiri KPKP, konsep tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi jarak antara seni sastra dan masyarakat.

“Kami ingin memberi ruang bagi mereka yang ingin berpartisipasi, tanpa merasa terkekang oleh standar akademis atau genre tertentu,” katanya, Sabtu (1/2/25).

Langkah Kecil Menjadi Terobosan Besar

Meski baru berusia setahun, KPKP sudah berhasil menciptakan ruang yang inklusif bagi orang-orang yang ingin menikmati puisi dalam bentuk yang lebih menyenangkan. Acara ini tak hanya memberikan panggung bagi para penyair, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merasakan pengalaman berbeda melalui pendekatan yang lebih ringan namun tetap mendalam.

Melalui inisiatif ini, KPKP berharap bisa mengubah cara pandang banyak orang terhadap puisi. Tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang kaku dan terbatas, tetapi sebagai bentuk seni yang bisa diapresiasi dalam banyak cara, bahkan lewat indera yang kita miliki.

“Pasar Puisi” adalah buktinya. Puisi kini bisa dirasakan lebih dari sekadar kata-kata. Ia bisa dilihat, didengar, disentuh, dan bahkan dirasakan. Sebuah perayaan kebebasan berekspresi yang melampaui batasan tradisional sastra.(*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H