Sidoarjo, Tagarjatim.id – Hak Guna Bangunan (HGB) seluas 656 hektar ditemukan di laut Desa Segoro Tambak, Kabupaten Sidoarjo, menghebohkan masyarakat.
Kawasan ini menarik perhatian karena lokasinya berada di tengah laut dan hanya dapat diakses menggunakan perahu nelayan dengan perjalanan sekitar satu jam.
Salah satu nelayan setempat, Heri membenarkan adanya patok-patok di laut tersebut, tetapi ia tidak mengetahui siapa pemilik sah kawasan itu.
“Kalau laut ini ada patok memang iya, tapi untuk pemiliknya saya tidak tahu,” ujar Heri, Kamis (23/1/2025).
Menurutnya, patok-patok tersebut sudah ada sejak sekitar 20 tahun lalu, meskipun beberapa di antaranya diganti dengan patok baru sekitar lima tahun terakhir.
Kontroversi muncul karena sejak 2010 Mahkamah Konstitusi (MK) telah membatalkan status kepemilikan lahan di atas laut. Namun, hingga kini patok-patok tersebut tetap berdiri, menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat dan nelayan.
“Patok yang baru, ya sekitar lima tahunan yang lalu,” tuturnya.
Heri juga mengungkapkan bahwa laut tersebut memiliki kekayaan alam seperti kerang, serta proses alami yang perlahan mengubah laut menjadi daratan.
“Kalau 40 tahun lalu memang terlihat prosesnya, tapi sekarang belum ada daratan baru karena memang prosesnya sangat panjang,” jelasnya.
Ia menduga patok-patok tersebut mungkin dipasang untuk tujuan tambak, meskipun kondisi pantai yang masih dangkal membuat pengelolaannya sulit dalam waktu dekat.
Plt Bupati Sidoarjo, Subandi, menanggapi kontroversi ini dengan menjelaskan bahwa kawasan tersebut telah disertifikatkan atas nama PT sejak 1996. Meski demikian, pengelolaannya hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat.
“Sudah saya sampaikan ke masyarakat, kalau wilayah tersebut belum dibebaskan tapi sudah disertifikatkan atas nama PT,” ujar Subandi.
Ia menambahkan bahwa beberapa blok kawasan itu telah berubah menjadi tambak, sementara sebagian lainnya masih berupa laut.
“Yang lainnya masih berupa tambak dan belum ada penguasaan. Tentunya HGB, yang tiga sudah berupa tambak dan dua masih berupa laut,” imbuhnya.
Subandi juga menjelaskan bahwa kondisi geografis laut Sidoarjo yang berlumpur membuat daratan Kota Delta terus bertambah setiap tiga tahun.
“Ini tadi airnya naik, kalau lagi turun pasti terlihat daratannya,” tutupnya.
Keberadaan HGB di laut Desa Segoro Tambak ini menimbulkan banyak pertanyaan, terutama bagi para nelayan yang menggantungkan hidup dari kekayaan laut tersebut. Mereka berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan persoalan ini agar tidak mengganggu aktivitas mereka di masa mendatang.(*)




















