Kota Malang, TagarJatim.id – Pedagang makanan di Kota Malang mulai pasrah dan gigit jari. Betapa tidak, harga cabai melambung tinggi mencapai Rp 110 ribu per kilogram.

Tiamah, pemilik warung makanan bernama Warung Mak Tiamah mengeluh akibat kenaikan harga cabai. Karena, ia tidak bisa membuatkan makanan sesuai pesanan pelanggannya.

“Sepi mas sekarang, lah mau bikin sambal pakai cabai sedikit nanti orang gak seneng kalau gak pedas. Mau tak kasih banyak, lombok (cabai) sekarang harganya bikin ngelus dada. Serba repot,” tutur Tiamah.

Akibatnya, Tiamah mengaku pasrah dengan kondisi yang dialaminya saat ini. Dan ia akan tetap membuat makanan yang berbahan sambal meski porsi cabai dikurangi.

“Ya saya bikin sambal gak pedes sekarang, cabainya dikit. Kalau pelanggan gak mau ya gimana lagi. Pasrah aja,” keluh Tiamah.

Terpisah, salah satu pedagang makanan di Pasar Klojen, Arik mengakui kenaikan harga cabai sangat berdampak. Apalagi, yang ia jual adalah rawon dan lauk pauk, dimana cabai merupakan salah satu bahan yang dibutuhkan.

“Ya kalau berdampak kenaikan cabai, ikut terdampak. Apalagi kenaikan ini sudah dua mingguan kita rasakan,” ujar Arik.

Dengan naiknya harga cabai, Arik tak bisa menaikkan harga makanan yang dijual. Karena ia khawatir pelanggan pindah ke lain hati.

Saat ini, salah satu cara yang bisa ia lakukan adalah mengurangi porsi cabai. Sehingga, rasa pedas yang biasanya menjadi signature sambal, rasanya sedikit berkurang.

“Ya cabai saya kurangi pas buat sambal. Tapi kadang orang-orang minta tambah dibuatkan sambal, ya mau gak mau saya layani,” ungkap Arik. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H