Kabupaten Malang, TagarJatim.id – Sosok AKBP Putu Kholis Aryana tak bisa dilepaskan dari para keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Aktivitasnya selama menjabat banyak bersentuhan langsung dengan para korban, baik dari keluarga korban meninggal dunia, korban luka-luka, hingga korban trauma.
Sejak menjabat Kapolres Malang pada 3 Oktober 2022, atau selang dua hari pasca peristiwa memilukan Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, Putu Kholis Aryana langsung mengemban tugas berat.
Berdinas selama 2 tahun lebih 3 bulan, kapolres pengganti AKBP Ferli Hidayat ini banyak bersentuhan langsung dengan para korban tragedy untuk menangani pemulihan pasca tragedi kanjuruhan. Hal ini ia lakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban Polri atas peristiwa tersebut.
Hal ini bisa dilihat dari laporan akhir Tahun 2024, sebanyak 2.859 penanganan Tragedi Kanjuruhan yang dilakukan oleh Putu Kholis beserta jajaran di Mapolres Malang.

Data tersebut termasuk kegiatan melaksanakan silaturahmi dengan keluarga korban, menyalurkan bantuan sosial, doa bersama, penanganan kesehatan, memfasilitasi surat izin mengemudi korban tragedi, dan masih banyak lainnya.
Jika dirinci, ada sebanyak 1.436 kegiatan silaturahmi dengan keluarga korban, 573 bantuan sosial, dan 405 kegiatan doa bersama, serta masih banyak kegiatan lainnya.
Sejak awal menjabat Kapolres Malang, Putu Kholis langsung mengahdapi kondisi genting dan suasana sangat kelam pasca Tragedi Kanjuruhan.
Sebagai polisi berusia 39 tahun yang dirasa belum matang saat itu, Putu Kholis tak tahu apa yang harus dilakukan ataupun dikerjakan untuk menghadapi tragedi yang menewaskan 135 orang tersebut.
Namun ia berfikir dengan idealismenya saat datang mengunjungi korban kata minta maaf merupakan representasi yang harus dilakukan oleh Polri kepada keluarga korban, Aremania, bahkan warga Malang Raya. Tak satu kali, tapi harus tiga kali diucapkan menurutnya.
Mengucap minta maaf tiga kali, bukan tanpa dasar tapi punya arti mendalam. Maaf pertama ditujukan bagimana bentuk tanggung jawab rasa bersalah atas terjadinya Tragedi Kanjuruhan.
Maaf kedua ditujukan khusus untuk keluarga korban. Bahwa tragedi ini pukulan telak bagi keluarga korban. Karena tak dipungkiri korban yang menjadi tulung punggung, harapan besar korban di masa depan.
Maaf terakhir, berbagai langkah dalam rangka membangun silahturahmi, upaya memulihkan situasi di Malang Raya.
Tidak hanya permintaan maaf, pria kelahiran Jogja, Jawa Tengah ini juga terus menujukkan keberpihakan terhadap keluarga korban. Salah satunya melalui bantuan UMKM, aksi ini diharapkan dapat mambantu meningkatkan kesejahteraan melalui usaha mandiri yang berkelanjutan.
Bantuan usaha tersebut juga beragam, disesuaikan dengan kebutuhan para keluarga korban. Mulai dari gerobak, mesin jahit, etalase, dan yang terbaru ada freezer yang diberikan bersamaan dengan dua gerobak lainnya.
“Seluruh (kebutuhan) coba kami fasilitasi, ada dukungan untuk mendapatkan pekerjaan. Kemudian pengurusan administrasi, bantuan sekolah, di luar usaha ini semaksimal mungkin kita fasilitasi dan wujudkan,” kata Putu Kholis.

Tidak berhenti pada bantuan usaha, Putu Kholis terus mengukir kebaikan melalui aksi kepedulian dengan memfasilitasi keluarga korban mendapatkan bimbingan serta pendidikan lalu lintas untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM).
Bantuan sosial lain, seperti bedah rumah hingga pembangunan rumah juga diinisiasi oleh Kapolres Malang. Hal ini dilakukan guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarga korban yang memiliki rumah tak layak huni.
Berbagai bentuk pendekatan humanis dilakukan, Polres Malang juga memberikan penanganan kesehatan dan pendampingan psikolog usai tragedi yang meninggalkan trauma mendalam.
Ada sebanyak 15 operasi dan pengobatan didukung oleh Polres Malang. Kemudian, sebanyak 182 trauma healing juga diberikan oleh korban selamat Tragedi Kanjuruhan.
Doa dan tahlil pun juga tak pernah putus dilaksakan bersama keluarga korban, mulai dari doa tujuh hari hingga doa bersama peringatan dua tahun tragedi kanjuruhan pada 1 Oktober 2024 lalu.
Pria lulusan Akademi Polisi tahun 2004 itu juga sempat menuliskan buku ‘Move in Silence: Untold Story of Kanjuruhan Disaster’ yang baru saja dilaunching pada Jumat (20/12/2024) lalu.
Buku setebal 300 halaman itu sebagai catatan penting dan juga pengingat, atas terjadinya peristiwa yang merenggut 135 nyawa. Tragedi yang tak akan terlupakan sepanjang masa oleh institusi kepolisian, khususnya Polres Malang.
Goresan karya Putu Kholis itu juga mengupas pendekatan sosial, budaya, dan kemanusiaan yang akan terus dilakukan oleh Polres Malang pasca tragedi.
“Ini merupakan sebuah pelajaran penting yang tidak boleh dilupakan oleh Polres Malang agar kedepan tidak boleh terulang kembali,” kata Putu Kholis belum lama ini.

Bahkan, di akhir jabatannya di Polres Malang, Putu Kholis mengatakan, akan tetap berkomitmen untuk terus mengawal tragedi kanjuruhan.
Rencananya, ketika nanti ia bertugas di Polda Metro Jaya, ia akan berupaya untuk bisa menjadi penghubung antara keluarga korban dengan PSSI dan Liga Indonesia Baru (LIB), yang selama ini dirasa belum mendapatkan akses komunukasi secara maksimal.
“Semoga dengan adanya saya di Polda Metro Jaya kedepan bisa menjadi jembatan komunikasi antara keluarga korban dan PSSI dan LIB yang kurang maksimal. Ini insyaallah yang akan saya lakukan sebagai bentuk pengawalan terhadap tragedi kanjuruhan,” pungkasnya. (*)




















