Penulis : Dixs Fibriant

Blitar, tagarjatim.com – Seorang santri berinisial MAR (14) warga Sentul, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, meninggal setelah mendapat perawatan 5 hari di Rumah Sakit Ngudi Waluyo, Wlingi. Ia dikeroyok temannya sesama pondok pesantren di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Keluarga meminta agar polisi mengusut tuntas kasus ini, karena telah menyebabkan korban meninggal dunia. Apalagi korban ke pondok untuk belajar.

Heru Wahyudi, paman korban mengatakan keluarga menerima kabar bahwa MAR dibawa ke rumah sakit pada Rabu (3/1/2024). Ia dibawa ke rumah sakit. Namun, kondisinya saat itu sudah koma sehingga tidak bisa ditanya.

Keluarga, kata dia, sangat menyesalkan dengan kejadian itu. Dari pihak pengurus Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq, Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, tempat korban menimba ilmu saat itu tidak memberikan penjelasan yang membuat keluarga merasa tenang dan hanya mengatakan masih konsentrasi untuk pemulihan korban.

“Keluarga tidak mengetahui, kondisinya saat itu sudah koma. Kami serahkan ke pihak berwajib,” tegasnya Minggu (7/1/2024).

Sementara itu, Yuliastutik, pendamping hukum UPT PPA Kabupaten Blitar mengatakan pihaknya mendampingi korban sejak awal terkait dengan kasus ini.

Ia kaget korban meninggal dunia. “Kami langsung meluncur ke rumah sakit untuk bertemu dan diskusi dengan orangtua kroban. Kami juga dampingi ke polres sampai hari ini dapat kabar ananda meninggal,” katanya.

Ia belum mengetahui soal pelaku pengeroyokan atau tersangka. Namun, dimugnkinkan lebih dari satu.

Aksi pengeroyokan disertai penganiayaan hingga meninggal dunia dialami seorang santri pondok pesantren di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Peristiwa pengeroyokan dan penganiayaan tersebut terjadi pada Selasa (2/1/2024) malam sekitar pukul 23.00 WIB yang dilakukan oleh sejumlah temannya di lingkungan ponpes. Motif pengeroyokan dan penganiayaan karena korban dituduh mencuri uang teman-temannya.

Pengeroyokan tersebut menyebabkan korban tidak sadarkan diri, dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Aulia. Ironisnya, pihak rumah sakit Aulia setelah memeriksa kondisi korban tidak mau menerima pasien dengan alasan tidak berani menerima karena tidak ada yang bertanggung jawab.

Sementara itu, mengetahui korban tidak diterima pihak Rumah Sakit Aulia, pengurus ponpes melaporkan kejadian ini ke orang tuanya, selanjutnya korban dibawa ke Rumah Sakit, Ngudi Waluyo, Wlingi, Blitar.

Kemudian, orang tua korban mengetahui kondisi tubuh anaknya babak belur, tidak terima, dan akhirnya melaporkan kejadian pengeroyokan dan penganiayaan tersebut ke Polres Blitar.

Sementara itu, setelah dirawat 5 hari di rumah sakit, Korban yang masih duduk di kelas 7 bangku sekolah SMP Negeri 1 Sutojayan
Kelas 7 tersebut akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (7/1/2024) sekitar pukul 05.00 WIB.

Kasatreskrim Polres Blitar AKP Febby Pahlevi Rizal membenarkan kejadian itu. Sampai saat ini kasus ini masih dalam penyelidikan unit Pelayanan Perlindungan Anak (PPA) Polres Blitar mengingat korban dan pelaku usianya masih dibawah umur.

Polisi juga belum menetapkan tersangka dalam kasus penganiayaan hingga korban meninggal dunia tersebut.”

“Sampai dengan saat ini sudah 21 orang yang telah dimintai keterangan,” katanya singkat. (*)

isra mi'raj nabi muhammad saw 1447H