Kota Malang – Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi Bathbomb yang berkhasiat sebagai terapi untuk penderita dermatitis atopik. Produk ini sukses mengantarkan mereka meraih juara 3 kategori PKM-RE (Riset Eksperimen) dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Tingkat Nasional (Pimtanas) 2024.
Tim ini terdiri dari Fricilia Nur Syahada, Nabila Nur Jasmine, Nafisatuz Zain, dan Permata Shafa Salsabila dari Program Studi Farmasi, serta Anugrah Wahyu Pribadi dari Program Studi Akuakultur.
Nabila Nur Jasmine menjelaskan bahwa produk Bathbomb ini dirancang untuk mempermudah penderita dermatitis atopik, yang selama ini harus rutin menggunakan pelembap. Penggunaan pelembap sering kali tidak merata, sehingga menurunkan efektivitas pengobatan.
“Pengobatan menggunakan pelembap kadang kurang efektif karena tidak menjangkau seluruh tubuh. Hal inilah yang melatarbelakangi kami untuk mengembangkan bathbomb dari bahan mackarel oil dan black seed oil. Produk ini memberikan efek terapi yang merata ke seluruh tubuh,” ungkap Nabila, Sabtu (7/12/2024).
Mackarel oil dan black seed oil dipilih karena memiliki manfaat meredakan gatal, bersifat antibakteri, antiinflamasi, dan mengandung omega-3 yang baik untuk regenerasi kulit. Meski begitu, tim menghadapi tantangan, salah satunya minimnya penelitian terkait penggunaan bathbomb untuk terapi penyakit kulit.
“Kami juga memilih mackarel oil dari ikan tenggiri, yang masih jarang digunakan dalam produk terapi kulit. Ini menjadikannya hal baru yang menarik,” tambahnya.
Penggunaan bathbomb cukup sederhana. Pengguna hanya perlu memasukkan bathbomb ke dalam air di ember atau bathtub. Setelah larut, produk ini menciptakan gelembung busa yang langsung siap digunakan.
Tim UMM telah melakukan uji coba pada telur ayam untuk mengukur daya iritasi. Hasilnya menunjukkan bahwa formula dengan perbandingan 1:3 antara black seed oil dan mackarel oil memiliki tingkat iritasi yang sangat kecil, sekaligus mengandung sifat antibakteri dan antiiritasi.
“Harapannya, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, bathbomb ini bisa menjalani uji farmakologi lebih mendalam pada hewan atau manusia. Jika lolos, produk ini dapat diedarkan ke masyarakat dan membantu penderita eksim,” kata Nabila.
Inovasi ini membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa dapat menghasilkan solusi nyata untuk masalah kesehatan, sekaligus berkontribusi pada pengembangan sains dan teknologi.




















