Kota Batu – “Kita tidak tahu jalan hidup seseorang lima atau sepuluh tahun ke depan. Roda kehidupan terus berputar dan menjadi misteri semesta. Kita tidak tahu ujungnya di mana. Karena itu, sesama manusia harus terus saling menghargai.” Demikian kata-kata yang pernah diungkapkan Nurochman, Walikota Batu terpilih dalam Pilkada 2024.
Cak Nur, begitu ia akrab disapa, memiliki kisah inspiratif di balik kesuksesannya yang berhasil bersinar dalam Pilkada 2024 Kota Batu.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, Cak Nur dengan dedikasi, kerja keras, dan integritas berhasil menunjukkan bahwa dirinya layak menduduki posisi tertinggi dan memimpin Kota Batu.
Karier politik Cak Nur yang penuh dengan rintangan membuktikan bahwa untuk menjadi pemimpin, seseorang tidak harus berasal dari kalangan elit.
Sebagai Ketua DPC PKB Kota Batu, Cak Nur berhasil mengantarkan partai berlambang bintang sembilan itu menjadi partai nomor satu di Kota Batu, setelah meraih perolehan suara terbanyak dalam pemilihan legislatif (pileg) 2024. Berkat kepemimpinan Nurochman, PKB berhasil menggeser PDIP.
Sebelumnya, jejak karier politik Cak Nur sudah terlihat sejak ia terpilih sebagai Anggota DPRD Kota Batu selama tiga periode berturut-turut: 2014-2019, 2019-2024, dan 2024-2029 (meskipun ia harus PAW karena maju dalam Pilkada Kota Batu).
Puncaknya, Cak Nur berhasil merebut kursi Wali Kota Batu pada Pilkada 2024, bersama Heli Suyanto, mengalahkan pasangan Firhando Gumelar-H Rudi dan Kris Dayanti-Kresna Dewanta Phrosakh.
Cak Nur yang berasal dari keluarga petani, sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan yang penuh tantangan. Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk membantu orang tuanya bertani, terutama menanam sayur seledri, yang menjadi komoditas pertanian utama dan khas di desanya.
Cak Nur menyadari bahwa kemampuan orang tuanya untuk menyekolahkan anak hingga tingkat SMA adalah pencapaian yang luar biasa pada masa itu. Oleh karena itu, ia tidak memaksakan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Bapak dan ibu saya petani. Saya juga ikut bertani. Bahkan hingga lulus SMA, karena keterbatasan biaya, saya tidak bisa lanjut kuliah. Saya tidak masalah dengan itu dan memilih untuk ikut membantu bertani. Waktu saya bertani cukup lama,” ujar Cak Nur.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah dengan keadaan. Tidak kuliah bukan berarti ia berhenti untuk belajar.
Selain bertani, Cak Nur juga pernah bekerja sebagai tenaga honorer di Pemkot Batu pada periode 2007-2013. Sebelum menjadi tenaga honorer, pria 55 tahun ini sempat bekerja sebagai tukang sapu di Hotel Victory Batu dan kemudian menjadi ketua serikat pekerja di sana.
Pada tahun 2004, Cak Nur beralih menjadi wirausahawan dengan mengelola sayuran organik dan budidaya jamur tiram putih. Ia juga sempat berkarier di Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Batu selama lima tahun. Selain itu, Cak Nur pernah menjabat sebagai Pj Kepala Desa Sumberejo dari tahun 2006 hingga 2007, sebuah posisi yang didapat berkat aktifitasnya dalam organisasi kemasyarakatan.
Cak Nur juga aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris BP KNPI Kota Batu (1991-1996), ketua PC IPNU Kota Batu (1993-1997), ketua SPSI Hotel Victory Batu (2001-2004), dan ketua BPD Sumberejo (2006-2007). Selain itu, ia menjabat sebagai Ketua DPC PKB Kota Batu dari 2010 hingga 2026 mendatang.
Dalam perjalanan politiknya, Cak Nur mengingat masa sulit pada tahun 2009 ketika PKB tidak memenangkan satu pun kursi legislatif. Namun, dengan strategi komunikasi yang efektif dan semangat yang tinggi, ia berhasil memulihkan partai dari kehancuran.
Cak Nur mengambil langkah dengan menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar partai, sehingga PKB Kota Batu tetap eksis hingga kini.
“Saya kira, pribadi saya hingga sekarang berjalan secara alamiah saja. Saya adalah anak petani yang kebetulan diberi kesempatan menjadi wakil rakyat. Jadi, ketika menjalani tugas sebagai wakil rakyat, saya selalu merasa seperti rakyat biasa sebelum terpilih,” tutupnya.




















