Kota Batu – Dikenal sebagai pusat pariwisata dan pertanian, Kota Batu kini juga mencuri perhatian dunia berkat kerajinan batiknya, hingga mampu menembus pasar internasional serta diminati distributor dari Yogyakarta dan Surakarta.
Batik itu adalah buah tangan dari pengrajin batik Kota Batu bernama Sumari, seorang pria asal Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji. Sumari telah menjadi pengrajin batik sejak usia 20 tahun dan kini menjadi salah satu nama besar dalam industri batik Kota Batu.
“Kota Batu terkenal sebagai Kota Wisata dan pertanian. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami sebagai pengrajin batik,” ungkap Sumari pada Kamis, 5 Desember 2024.
Sebelum terjun ke dunia batik pada tahun 1991, Sumari adalah seorang pengrajin wayang kulit. Dia menyukai pekerjaan yang rumit dan membutuhkan ketekunan.
Keputusan untuk beralih ke batik muncul karena kekhawatirannya terhadap pasokan bahan baku wayang kulit yang semakin sulit didapat. Dengan semangat belajar, dia pun mulai berlatih membatik dan terus mengembangkan diri.
Berkat kegigihannya, Sumari kini sukses menghasilkan karya-karya batik yang berkelas dunia dengan harga yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tak hanya itu, ia juga berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Menurut Sumari, kunci utama kesuksesan Batik Sumari adalah variasi motif dan ciri khas yang dimilikinya. Setiap lembaran kain batiknya selalu dihiasi dengan gambar apel sebagai tanda identitas.
“Jika motif batiknya itu-itu saja, orang pasti bosan. Tapi kalau batik punya nilai lebih, pasti pembeli tertarik meski harganya mahal,” ujarnya.
Batik Sumari dijual dengan harga mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp50 juta per potong. Beberapa waktu lalu, ia bahkan pernah menjual batik seharga Rp68 juta kepada pembeli asal Belanda. Di antara berbagai jenis batik yang diproduksinya, Batik Pakeman dijual mulai Rp7 juta, sementara Batik Sekar Jagat dan Cumikan—yang merupakan batik dengan tingkat kerumitan tinggi—bisa mencapai harga Rp50 juta per potong. Proses pembuatan batik-batik ini bisa memakan waktu hingga lebih dari satu tahun. Dalam setahun, Sumari berhasil meraup omzet sekitar Rp1 miliar.
“Batikku yang termahal kini harganya mencapai Rp50 juta. Batik ini sudah banyak yang menunggu. Jadi, jika ingin batik kita dicari orang, harus menekuni prosesnya. Setiap pembuatan batik harus punya filosofi, dari proses canting hingga menjadi karya utuh,” jelas Sumari.
Keindahan Batik Sumari telah diakui dunia. Batik ini telah mendapatkan label Batik Mark, yang merupakan standar kualitas batik internasional. Untuk memperoleh label tersebut, batik harus diuji melalui serangkaian proses dan pengujian di Balai Penelitian Batik Yogyakarta.
“Batik Mark ini seperti SNI-nya batik dunia. Untuk mendapatkannya, batik harus lulus uji nasional di Balai Penelitian Batik Yogyakarta. Setelah itu, baru bisa dipasarkan secara internasional,” jelasnya.
Pasar internasional Batik Sumari mencakup negara-negara seperti Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Malaysia, dan banyak lagi. Selain mengekspor, banyak juga pembeli dari luar negeri yang datang langsung ke gerai Batik Sumari.
“Banyak pembeli luar negeri yang datang langsung ke gerai kami. Mereka sangat senang melihat proses pembuatan batik secara langsung. Meski hasilnya belum sempurna, mereka tetap merasa puas,” tambah Sumari.
Pengrajin batik berusia 57 tahun ini juga berbagi tips bagi para pengrajin batik di Kota Batu. Menurutnya, kualitas batik harus selalu dijaga dan stok batik siap pakai harus tersedia.
“Untuk usaha batik yang sukses, kita harus berani membuat stok dan menjaga kualitas. Jika batiknya acak-acakan dan tidak ada stok, sementara ada tamu datang dan kita tidak siap, maka usaha ini akan sulit berkembang,” tutup Sumari.




















