Kabupaten Malang – Pemanfatan tanah kas desa untuk program ketahanan pangan Tahun 2024 merupakan salah satu prioritas pengunaan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2024.
Program itu sudah dimaksimalkan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Pakisaji, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Mereka memanfaatkan tanah kas desa dengan menanam buah melon, yang bisa menghasilkan 5 kwintal setiap kali panen. Saat ini, Pemerintah Desa Pakisaji telah memanen buah melon itu untuk kedua kalinya, Kamis (10/10/2024).
Budidaya buah melon itu menjadi terobosan tersendiri bagi Pemerintah Desa Pakisaji, yang menjalankan dengan sukses realisasi Program dari Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Selain sebagai bentuk tanggung jawab program ketahanan pangan, juga bentuk perhatian dalam rangka konvergensi stunting di Desa Pakisaji.
Sekitar tiga bulan yang lalu, Pemdes Pakisaji juga telah sukses memanen sebanyak 4,6 kuintal dengan kondisi buah melon yang cukup bagus. Rencananya, di akhir tahun 2024 ini, Pemdes Pakisaji juga akan realisasi panen ketiga.
Pendamping Lokal Desa (PLD) Kecamatan Pakisaji, Hendri Yulianto yang intens mendampingi salah satu program Kemendes PDTT ini menyampaikan bahwa budidaya melon Golden Intanon ini, memanfaatkan media green house.
“Tentu kami mendukung program seperti ini yang dampaknya bukan hanya sekedar realisasi program saja, tapi juga dapat dirasakan manfaatnya oleh warga,” ungkapnya.
“Ini sebenarnya yang menjadi bidikan utama porgram ketahanan pangan yang semestinya dan idealnya bisa berkelanjutan,” imbuhnya.
Sementara itu, Mochamad Bilal pengelola green house menjelaskan, dengan media green house adalah salah satu sarana budi daya tanaman pangan yang diandalkan masyarakat. Sebab, waktu produksinya tidak tergantung cuaca dan panennya juga relatif lebih cepat.
Umumnya, melon yang dikembangkan dengan metode konvensional baru bisa dipanen setelah berumur tiga bulan. Sedangkan melon yang dikembangkan di dalam green house tersebut sudah bisa panen dalam 2,5 bulan.
“Panen pertama saat pertengahan tahun lalu dapat sekitar 460 kilogram. Sedangkan panen kedua bisa diprediksi mencapai 500 kilogram,” terangnya.
Sebab pada panen kedua ini, buah yang diproduksi ukurannya lebih besar. Satu buah rata-rata memiliki berat sekitar 1 kilogram. Sehingga berdampak pada omzetnya pun juga lebih besar.
”Karena harga jualnya juga berbeda. Kalau yang pertama itu Rp 20 ribu per kilogram. Kemudian panen kedua Rp 23 ribu per kilogram,” kata Bilal
Selain untuk operasional, dia mengatakan, hasil panen tersebut juga dimanfaatkan untuk penanganan stunting di Desa Pakisaji. Setidaknya, Rp 1 juta akan diberikan kepada kader stunting untuk dapat digunakan membeli telur dan daging. Sehingga, green house-nya juga dapat berkontribusi untuk mewujudkan ketahanan pangan.




















